Peru Berminat Jalin Kerja sama Industri Kelapa Sawit dengan Indonesia

Peru menilai Indonesia telah sukses mengembangkan industri kelapa sawit baik di industri hulu dan hilir. Hal ini dibuktikan dengan tingginya produktivitas kebun kelapa sawit di Indonesia, serta pengembangan berbagai produk dari minyak sawit termasuk biodiesel.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  14:23 WIB
Peru Berminat Jalin Kerja sama Industri Kelapa Sawit dengan Indonesia
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA--Peru menginginkan Indonesia menjadi partner strategis di bidang industri kelapa sawit.

Permintaan itu disampaikan oleh Anggota Kongres Peru Alejandra Aramayo kepada Wakil Menteri Hidrokarbon Peru Eduardo Guevara pada pertemuan tanggal 12 Juni 2019 yang juga dihadiri oleh Duta Besar RI Lima, Marina Estella Anwar Bey dan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan.

Mengutip laman resmi Kementerian Luar Negeri RI, Rabu (19/6/2019), Peru menilai Indonesia telah sukses mengembangkan industri kelapa sawit baik di industri hulu dan hilir. Hal ini dibuktikan dengan tingginya produktivitas kebun kelapa sawit di Indonesia, serta pengembangan berbagai produk dari minyak sawit termasuk biodiesel.

Ketua APROBI Paulus Tjakrawan menjelaskan bahwa Indonesia telah menggunakan biodiesel sejak 2006 dan terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini Indonesia menggunakan kandungan biodiesel sebanyak 20% (B20) dan sedang mengujicoba B30. Diproyeksikan bahwa pada tahun 2020, Indonesia akan mulai menggunakan B30. Selain itu Indonesia juga sedang mengembangkan bahan bakar bio-hidrokarbon berupa green gasoline, green diesel, dan green avtur.

Hal ini sangat menarik minat Aramayo untuk merekomendasikan Pemerintah Peru agar dapat bekerja sama dengan Indonesia. Sebagai salah satu anggota Kongres Peru yang sangat aktif dalam mengkampanyekan penggunaan biodiesel di Peru. “Indonesia dapat menjadi model bagi Peru untuk mengembangkan industri kelapa sawit khususnya biodiesel bagi kebutuhan domestik,” ujar Aramayo.

Saat ini Pemerintah Peru telah menerapkan mandat penggunaan B5 namun produksi biodiesel dalam negeri sangat kecil dan tidak bisa memenuhi kebutuhan domestik sehingga pemerintah harus mengimpor produk biodiesel dari negara lain dalam skala besar.

Aramayo juga mengharapkan Peru dapat bergabung dengan Dewan Negara Penghasil Kelapa Sawit (CPOPC) yang telah diinisiasi oleh Indonesia dan Malaysia. Saat ini, Kolombia merupakan negara pertama di kawasan Amerika Latin yang telah menjadi anggota.

Pemerintah Peru menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan akan mempelajari kemungkinan Peru menjadi anggota CPOPC. Kerja sama lebih lanjut dengan Indonesia, baik di bidang energi seperti biodiesel maupun petrokimia, akan ditindaklanjuti melalui KBRI Lima.

Duta Besar RI Lima Marina Estella Anwar Bey mengatakan bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan Peru untuk meningkatkan hubungan baik kedua negara. Ketua APROBI menyampaikan pula bahwa Indonesia siap untuk membagikan hasil riset B20 kepada Peru untuk kerja sama di bidang energi kedepannya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kelapa sawit, Biodiesel

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup