Bandung-Belgia Rancang Kerja Sama di 3 Sektor

Kerja sama yang dianggap potensial adalah pengembangan makanan halal, kesehatan, dan industri penerbangan.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  15:16 WIB
Bandung-Belgia Rancang Kerja Sama di 3 Sektor
Duta Besar Belgia untuk Indonesia Stephane De Loecker (kiri) dan Wali Kota Bandung Oded M. Danial bertemu untuk membicarakan kerja sama kedua pihak dalam sektor halal, kesehatan, dan industri pesawat terbang di Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Dea Andriyawan

Bisnis.com, BANDUNG -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Pemerintah Belgia tengah merancang kerja sama di tiga bidang, yaitu pengembangan makanan halal, kesehatan, dan industri penerbangan.

Usai bertemu dengan Duta Besar (Dubes) Belgia untuk Indonesia Stephane De Loecker, Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengatakan kerja sama ini merupakan lanjutan Memorandum of Understanding (MoU) sister city antara Kota Bandung dengan Kota Namur, Belgia pada 2017. Hingga saat ini, Kota Bandung menjadi kota pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menjalin kerja sama sister city dengan Belgia.
 
"Dubes Belgia datang ke sini menawarkan kerja sama antara Kota Bandung dengan Kota Namur. Ini bagian dari upaya-upaya kita untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan Belgia yang sesungguhnya sudah terjalin 70 tahun lalu," tuturnya, Rabu (12/6/2019).
 
Khusus untuk pengembangan makanan halal, Oded menyatakan Pemkot Bandung sangat antusias karena pihaknya juga tengah berupaya mewujudkan Kota Kembang sebagai kota wisata halal. Salah satu unggulannya yakni menyodorkan kuliner halal.
 
Pengembangan makanan halal di antaranya dilakukan melalui perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran (Unpad). Rupanya, Belgia juga membaca potensi pasar makanan halal di Kota Bandung.
 
"Mereka ingin meningkatkan kerja sama yang positif dan konstruktif. Mereka menawarkan di antaranya membuat halal food karena mereka melihat Indonesia, khususnya Jawa Barat, sebagai konsumen halal food yang baik," ujarnya.

Oded melanjutkan kemitraan ini mencakup transfer ilmu pengembangan makanan halal. Fakta bahwa Belgia bukanlah negara dengan mayoritas warga Muslim diharapkan dapat menjadi pendorong bagi Kota Bandung untuk lebih serius di bidang ini. 

Industri penerbangan juga menjadi perhatian Belgia. Oded menegaskan produk PT Dirgantara Indonesia (Persero) tak kalah dari pabrikan Eropa dan AS dalam hal kualitas.
 
‎"Mereka ingin bekerja sama dengan PT DI. Sebelumnya, mereka sudah ada kerja sama dengan PT Pindad (Persero). Sisi lainnya kesehatan dan sebagainya, mereka ingin melihat itu," ungkapnya.
 
Selain kerja sama soal riset dan pengembangan teknologi, Pekot Bandung membuka peluang investasi.
 
‎Sementara itu, De Loecker ‎menerangkan Belgia tengah gencar memproduksi makanan halal sebagai unit bisnis baru. Hal itu mengingat banyaknya warga Muslim yang berdatangan dari kawasan Afrika bagian utara.

Dia menuturkan pembuatan makanan halal di Belgia sudah melibatkan teknologi canggih. Makanan yang diproduksi juga telah melewati pengujian bahan baku dan komposisi pembuatannya dijamin.
 
"Ini merupakan kunjungan resmi yang pertama kali menindaklanjuti kerja sama dan juga berbagi ilmu mengenai halal food di Bandung," ucap De Loecker.

Terkait industri penerbangan, dia mengakui Belgia mendapat suplai beberapa komponen pesawat terbang dan tengah melihat potensi kerja sama dengan Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bandung, belgia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup