Di Tengah Perang Dagang, Eksportir Kedelai AS Berjuang Penuhi Pesanan China

Eksportir kedelai Amerika Serikat sedang menghadapi musim panas paling sibuk dan paling menantang dari sisi logistik. Hal ini disebabkan adanya backlog kedelai pesanan China yang harus dikirim dan terjadinya banjir secara luas di wilayah Midwest.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 04 Juni 2019  |  20:07 WIB
Di Tengah Perang Dagang, Eksportir Kedelai AS Berjuang Penuhi Pesanan China
Kedelai - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Eksportir kedelai Amerika Serikat sedang menghadapi musim panas paling sibuk dan paling menantang dari sisi logistik. Hal ini disebabkan adanya backlog kedelai pesanan China yang harus dikirim dan terjadinya banjir secara luas di wilayah Midwest.

Eksportir kedelai AS harus mengirim sekitar 7 juta ton kedelai yang dipesan China sebelum eskalasi perang dagang keduanya terjadi akhir bulan lalu dalam beberapa bulan ke depan.

China akan menghadapi pinalti apabila mencoba membatalkan pembelian kedelai. Selain itu, negara importir terbesar di dunia ini masih membutuhkan kedelai. Pembatalan perjanjian pembelian yang telah ada juga bisa meningkatkan tensi hubungan diplomatik kedua negara.

"Anda memiliki kewajiban kontrak sehingga perlu adanya kesepakatan kedua belah pihak mengenai denda pembatalan. Jika tidak, perjanjian dianggap rusak," kata eksportir kedelai AS yang tidak ingin diungkap namanya kepada Reuters, Selasa (4/6/2019).

Biaya pembatalan biasanya bervariasi dari satu penjual ke penjual lainnya dan berkisar antara ratusan ribu dolar AS hingga jutaan dolar AS per kargo. Nilai biaya tersebut salah satunya bergantung pada komitmen pengiriman saat pembelian awal dilakukan.

Importir China dan eksportir AS dapat mencoba negoisasi kontrak untuk pengiriman setelah September di mana panen kedelai selanjutnya akan berlangsung. Jika tidak, eksportir kedelai AS yang menghadapi masalah penundaan pengiriman akan menyatakan force majeure.

Penundaan pengiriman kedelai ke China sampai seusai panen akan menyebabkan penumpukan stok dan berakibat penurunan harga dan memperpanjang masalah finansial pada sektor perkebunan AS.

Stok kedelai AS telah mencapai rekor tertinggi tahun ini setelah penjualan ke China turun ke level terendah dalam 16 tahun setelah pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut menerapkan tarif pada barang asal AS sebagai balasan pengenaan bea masuk produk China ke Negeri Paman Sam.

Badan usaha milik negara China membeli jutaan ton kedelai dari AS dalam 6 tahap yang berlangsung dari Desember hingga Maret. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya membeli lebih dari 2 juta ton pada saat bersamaan dari berbagai penjuru dunia.

Kenaikan harga kedelai asal AS menyebabkan China enggan menandatangani sisa komitmen pembelian sebelum perang dagang kembali memanas. Dengan keadaan ini, diperkirakan China tidak akan menambah pembelian dalam waktu dekat.

Eksportir kedelai AS perlu mengirimkan sekitar 2,3 juta ton selama Agustus sebelum panen untuk memenuhi kontrak pembelian.

Selama 10 tahun terakhir, ekspor kedelai AS ke seluruh penjuru dunia tercatat sebesar 1,5 juta ton rata-rata per bulan pada Juni, Juli, dan Agustus. Pengiriman ke China tercatat sekitar 400.000 ton.

Kondisi semakin berat dengan adanya banjir di sungai Mississippi yang berdampak pada aktivitas pengapalan di pelabuhan ekspor biji-bijian terbesar di New Orleans dan menyebabkan suplai dari Midwest tidak dapat diakses.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kedelai

Editor : Maria Yuliana Benyamin

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top