Banjir Bengkulu, Sejumlah Desa Masih Terisolasi

BPBD Bengkulu menyebutkan sejumlah desa di Bengkulu Tengah masih terisolasi dan belum dapat ditembus tim pencari dan penyelamat pascabanjir dan longsor dalam 3 hari terakhir.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 April 2019  |  17:57 WIB
Banjir Bengkulu, Sejumlah Desa Masih Terisolasi
Warga menjemur perabotan rumah tangga yang basah akibat terendam banjir di Tanjung Agung, Bengkulu, Senin (29/4/2019). - Antara/David Muharmansyah

Bisnis.com, BENGKULU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu menyebutkan sejumlah desa di Kabupaten Bengkulu Tengah masih terisolasi dan belum dapat ditembus tim pencari dan penyelamat pascabanjir dan longsor dalam 3 hari terakhir.

“Ada beberapa desa di dua kecamatan yang belum dapat ditembus tim penanggulangan bencana sehingga saat ini masih fokus membuka jalur,” kata Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Rusdi Bakar di Bengkulu, Senin (29/4/2019).

Pada perkembangan hingga Senin siang, banjir di Bengkulu telah menewaskan sedikitnya 29 orang.

Dia mengemukakan kunjungan bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ke sejumlah desa di Kecamatan Merigi Sakti dan Pagar Jati dibatalkan karena jalur belum dapat dilalui kendaraan roda empat.

Camat Merigi Sakti Ujang Safawi mengatakan longsor di Desa Lubuk Pendam menutup jalan lintas Provinsi Bengkulu. Akibatnya, jalur dari Tugu Hiu hingga Simpang Keroya Bengkulu Tengah menuju wilayah itu, tertutup. “Selain longsor ada juga banjir yang melanda Desa Punjung,” paparnya.

Ujang menambahkan warga korban longsor juga terdapat di Desa Susup, Komering, dan Rajak Besi. Sebagian besar warga itu sedang berada di kebun mereka di kaki Gunung Bungkuk.

Anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bengkulu Nurkholis Sastro mengatakan beberapa desa lainnya yang masih minim bantuan di Bengkulu Tengah adalah Desa Talang Panjang, Kota Titik, Genting, dan Tebat Penyengat.

“Ada 10 rumah yang bergeser dan hanyut terbawa banjir dan syukurnya jalan ke lokasi sudah bisa dilalui kendaran roda empat,” ucap Sastro.

Ketua Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu Deff Trihamdi mengatakan empat komunitas masyarakat adat terkena banjir dan longsor tetapi masih minim perhatian pemerintah, terutama tim penanggulangan bencana.

“Khususnya di Desa Muara Dua di Kabupaten Kaur, banjir Sungai Nasal mengakibatkan 20 rumah hanyut dan 353 kepala keluarga terdampak banjir,” kata Trihamdi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
banjir, bengkulu

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top