Eropa Dihantui Musim Panas Ekstrem

Perubahan iklim terasa cukup cepat di Eropa, mendorong petani dan generator listrik ke garis depan dalam pertempuran dengan alam. 
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 14 April 2019  |  05:30 WIB
Eropa Dihantui Musim Panas Ekstrem
Ilustrasi gelombang panas - iop.org

Bisnis.com, JAKARTA – Perubahan iklim terasa cukup cepat di Eropa, mendorong petani dan generator listrik ke garis depan dalam pertempuran dengan alam. 

Perubahan iklim kali ini cukup mengacaukan kehidupan setengah miliar orang yang menempati blok perdagangan terbesar di dunia ini.

Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus, tahun lalu adalah rekor terpanas ketiga dan menggarisbawahi tren pemanasan dialami dalam empat dekade terakhir.

Perubahan iklim kali ini berlangsung di beberapa negara di Eropa. Terlihat curah hujan di seluruh Eropa tengah dan utara adalah 80% di bawah tingkat rata-rata, mengakibatkan kerugian pertanian dan kebakaran hutan. 

Bahkan, foto satelit menunjukkan lusinan hutan Swedia terbakar pada bulan Juli yang menghancurkan hutan yang bernilai lebih dari US$100 juta.

"Ketika suhu naik sepanjang tahun, begitu pula durasi sinar matahari," kata Copernicus dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip dari laman Bloomberg, Sabtu (13/4/2019).

Adapun, bagian Eropa tengah dan utara mengalami hingga 40% lebih banyak waktu tersinari matahari daripada rata-rata dengan Jerman. 

Meski demikian, Copernicus juga menyebutkan tidak semua berdampak negatif. Banyaknya hari-hari tanpa awan di Eropa utara membantu Jerman menghasilkan rekor jumlah tenaga surya tahun lalu. 

Kapasitas terpasang energi terbarukan 45 gigawatt mereka memberikan 9% listriknya tambahan.

Akan tetapi, panasnya sinar matahari itu justru mempengaruhi sumber daya Eropa lainnya, yakni pembangkit listrik tenaga air. Gletser Alpine, yang airnya meleleh membantu pembangkit listrik tenaga air di Austria dan Swiss, menghilang dengan lebih cepat.

"Retret gletser akan berdampak besar pada pegunungan Alpen karena gletser adalah bagian penting dari ekosistem, lanskap, dan ekonomi kawasan ini. Mereka menarik wisatawan ke pegunungan dan bertindak sebagai waduk air tawar alami. Gletser menyediakan sumber air untuk pembangkit listrik tenaga air, yang sangat penting dalam periode hangat dan kering," kata Harry Zekollari, seorang ilmuwan iklim di Swiss.

Akibat tren cuaca jangka panjang ini, UE semakin fokus mendorong lebih banyak pembuat kebijakan dan bisnis untuk menggunakan data dan citra satelit untuk membantu perencanaan. 

Harry melanjutkan, rasa sakit yang dirasakan oleh para petani Eropa terbukti dari luar angkasa. Tanah pertanian yang biasanya subur di Eropa tengah dan utara dibakar oleh panas dan kurangnya hujan.

"Kondisi kering terutama bertahan di Jerman, di mana periode April-September adalah yang paling kering kedua dalam catatan, yang menyebabkan kerugian produksi pertanian yang besar," katanya.

Menurutnya, untuk menghindari dampak bencana dari perubahan iklim yang tak terkendali dunia perlu menginvestasikan US$2,4 triliun per tahun hingga 2035 untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil. 

Bahkan, kenaikan 1,5 derajat akan memiliki konsekuensi besar, termasuk kenaikan permukaan laut multi-meter selama ratusan hingga ribuan tahun dan kepunahan massal tanaman dan hewan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
eropa, gelombang panas

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top