Pasar Saham Asia Tenggara Kembali Menguat

Sebagian besar pasar saham di Asia Tenggara kembali menguat pada Selasa (26/3/2019) pascapenurunan tajam pada sesi yang lalu setelah kekhawatiran pada potensi resesi di Amerika Serikat mereda.
Nirmala Aninda | 26 Maret 2019 14:28 WIB
Bursa AS Wall Street - Reuters/Carlo Allegri

Bisnis.com, JAKARTA - Sebagian besar pasar saham di Asia Tenggara kembali menguat pada Selasa (26/3/2019) pascapenurunan tajam pada sesi yang lalu setelah kekhawatiran pada potensi resesi di Amerika Serikat mereda.

Indonesia merupakan salah satu pasar yang memimpin kenaikan dan mencatatkan peningkatan terbesar dalam waktu lebih dari sepekan.

Saham di Wall Street kembali stabil dalam semalam setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi pada Jumat (22/3), di tengah kekhawatiran yang membayangi inversi kurva pada yield tresuri 10 tahun AS, sejumlah analis memperkirakan kondisi ini sebagai tanda resesi yang akan datang.

"Setelah pasar saham regional terpantau merah kemarin, Asia tampaknya mulai tenang pada pembukaan perdagangan karena saham Eropa dan Amerika Utara sudah kembali stabil pada sesi semalam," Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA, dalam sebuah catatan, seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (26/3/2019).

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik, tidak termasuk Jepang, mencatatkan rebound sebesar 0,3 persen setelah kehilangan 1,4 persen pada sesi sebelumnya.

Meski demikian, sebagian besar investor tetap memilih untuk berhati-hati menjelang publikasi data kepercayaan diri konsumer AS untuk periode Maret setelah rebound pada Februari, yang didahului dengan penurunan tiga bulan berturut-turut.

Indeks Indonesia memimpin kenaikan di kawasan Asia Tenggara dan membukukan hari terbaik dalam waktu lebih dari sepekan, dengan kenaikan sebesar 0,88 persen yang didorong oleh sektor keuangan dan kebutuhan pokok konsumen.

PT Bank Central Asia Tbk. mencatatkan peningkatan lebih dari 1 persen. Sementara saham produsen produk rumah tangga, PT Unilever Indonesia Tbk.. mencatatkan kenaikan terbesar sejak 18 Februari.

Di sisi lain, saham Singapura tumbuh 1 persen menjelang publikasi data produksi industri untuk periode Februari.

Saham Thailand diperdagangkan 0,1 persen lebih tinggi, setelah penurunan tak terduga pada output pabrik pada periode Februari.

Indeks produksi manufaktur Thailand (MPI) pada Februari mengalami penurunan yang tidak disangka sebesar 1,6 persen secara tahunan.

Kementerian Perindustrian Thailand mengatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh produksi yang lebih rendah untuk komoditas baja, komputer dan produk karet.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters sebelumnya memperkirakan output akan tumbuh lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Hasil pemilihan umum Thailand, yang pertama kalinya sejak kudeta 2014, masih belum memberikan kejelasan setelah komisi pemilihan umum setempat mengatakan pada Senin (25/3), bahwa pengumuman final hasil pemilu akan disampaikan pada 9 Mei 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street, saham global

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top