Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pakar : Pengadilan Tak Berwenang Memproses Perkara Sengketa Eks-Aset GWP

Pengadilan dinilai tidak memiliki wewenang memproses perkara yang masih menjadi obyek sengketa atau terkait dengan perkara pidana maupun perdata yang sedang diproses penegak hukum lainnya.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 06 Maret 2019  |  17:02 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Pengadilan dinilai tidak memiliki wewenang dalam memproses perkara yang masih menjadi obyek sengketa atau terkait dengan perkara pidana maupun perdata yang sedang diproses penegak hukum lainnya. 

“Tidak boleh kalau itu obyek masih dalam sengketa, baik pidana maupun perdata,” tegas Muzakir, pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Rabu (6/3/2019).
 
Muzakir mencontohkan, yang jadi objek sengketa adalah tanah atau lahan. Maka tanah tersebut harus diblokir atau status quo dulu sampai ada putusan final dari pengadilan.
 
“Tidak bisa orang mengklaim dan minta pengesahan atas kepemilikan tanah tersebut kalau masih dalam sengketa. Apalagi melakukan penyitaan, jelas tidak boleh. Jangan melakukan akrobat hukum,” katanya.
 
Muzakir dimintakan tanggapan sehubungan adanya sejumlah pihak yang mengklaim turut memiliki hak tagih piutang atas nama debitur PT Geria Wijaya Prestige (GWP), pemilik Hotel Kuta Paradiso di Bali.

Padahal, hak tagih piutang PT GWP yang dulu merupakan kredit macet itu telah dilelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 2004 melalui Program Penjualan Aset-aset Kredit (PPAK) VI yang dimenangkan PT Millenium Atlantic Securities (MAS).

Setelah PT MAS menyelesaikan pembayaran atas aset kredit tersebut, BPPN lalu mengalihkan hak tagih piutang berikut dokumen kredit PT GWP kepada PT MAS. Di kemudian hari, PT MAS mengalihkan hak tagih piutang tersebut kepada Fireworks Ventures Limited.

Persoalan muncul, ternyata sertifikat asli yang menjadi jaminan kredit PT GWP itu tidak disertakan dalam seluruh dokumen kredit yang dialihkan BPPN ke PT MAS.

Akibatnya, Edy Nusantara, kuasa Fireworks, menempuh upaya hukum dengan melaporkan dugaan penggelapan sertifikat PT GWP ke Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri pada 21 September 2016 dengan Nomor : LP/984/IX/2016/Bareskrim.

Dua terlapor, yaitu Tohir Sutanto (mantan Direktur Bank Multicor/kini Bank CCB) dan Priska M. Cahya (pegawai Bank Danamon) telah ditetapkan sebagai tersangka.

Saat ini penyidik Bareskrim tinggal melakukan penyitaan dokumen asli sertifikat berbentuk SHGB atas nama PT GWP setelah penyidik mendapatkan penetapan izin penyitaan dari PN Jakarta Selatan dalam Surat Penetapan Nomor 16/Pen Sit 2018/PN Jkt Sel pada 29 Maret 2018.

Di tengah proses hukum di Bareskrim tersebut, Bank China Construction Bank Indonesia (Bank CCB) mengklaim telah menjual dan mengalihkan apa yang disebutnya sebagai hak tagih (cessie) atas nama debitur PT GWP itu kepada pengusaha Tommy Winata melalui akta bawah tangan tanggal 12 Februari 2018.

Berpegang pada akta itu, Tommy Winata mengajukan gugatan perdata Nomor 223/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Pst. pada PN Jakarta Pusat.

Inti gugatan pada dasarnya meminta pengadilan memutuskan bahwa PT GWP telah melakukan wanprestasi, dan mesti membayar kepada Tommy Winata selaku penggugat senilai US$31 juta lebih. Tomy sendiri diketahui membeli hak tagih piutang PT GWP dari Bank CCB itu di harga Rp 2 miliar.

Masalahnya, hak kebendaan (sertifikat PT GWP) yang melekat pada hak tagih yang diklaim Bank CCB telah dialihan kepada Tommy Winata tersebut masih menjadi obyek sengketa terkait penyidikan dugaan penggelapan sertifikat yang ditangani Bareskrim.

Dalam perkembangan lain, terhadap klaim pengalihan hak tagih dari Bank CCB ke Tommy Winata, Fireworks juga telah melakukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Bank CCB (tergugat I) dan Tommy Winata (tergugat II) yang didaftarkan pada PN Jakarta Utara dengan Nomor Perkara : 555/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Utr. Saat ini perkara tersebut dalam proses disidangkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tommy winata penggelapan sertifikat GWP
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top