Eskpor Jepang Turun Lebih Tajam Dari Perkiraan Pasar

Data Kementerian Keuangan Jepang pada Rabu (20/2), menunjukkan ekspor Jepang turun 8,4% secara tahunan pada Januari, angka ini lebih tinggi dari perkiraan penurunan 5,5% yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  07:46 WIB
Eskpor Jepang Turun Lebih Tajam Dari Perkiraan Pasar
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA -- Data Kementerian Keuangan Jepang pada Rabu (20/2), menunjukkan ekspor Jepang turun 8,4% secara tahunan pada Januari, angka ini lebih tinggi dari perkiraan penurunan 5,5% yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Realisasi tersebut merupakan penurunan tahunan paling tajam sejak Oktober 2016 diikuti dengan revisi penurunan ekspor menjadi 3,9% secara tahunan pada Desember tahun lalu akibat pelemahan permintaan dari China. 

Angka tersebut dirilis menyusul data penting dari belanja modal yang menunjukkan permintaan luar negeri untuk produk mesin Jepang mengalami penurunan terbesar sepanjang satu dekade, pada Desember 2018.

Sementara itu sentimen terhadap bisnis merosot ke level terendah pada dua tahun terakhir karena perselsihan dagang serta pelemahan pertumbuhan ekonomi China.

Ekspor Jepang ke China, mitra dagang terbesar negeri sakura, tercatat mengalami penurunan hingga sebesar 17,4% secara tahunan.

Libur Tahun Imlek dikatakan sebagai penyebab ekspor ke China sedikit terhambat, namun sejumlah analis mengatakan penurunan tertinggi masih akan terjadi pada Januari.

Takeshi Minami, Kepala Ekonom di Norinchukin Research Institute, mengatakan bahwa penyebab penurunan ekspor Jepang tidak dapat disalahkan karena libur Tahun Baru Imlek.

"Perlambatan ekonomi China menyebabkan efek domino ke pasar lain seperti Asia dan Eropa yang berdampak pada kegiatan pengiriman barang dari Jepang," katanya seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (20/2).

Dia menambahkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang dibarengi dengan perang dagan yang masih berlanjut menyebabkan perdagangan global dan ekonomi dunia terhambat.

Minami memperkirakan tahun ini Jepang tidak bisa hanya bergantung dengan ekspor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ekspor Jepang ke kawasan Asia, yang menyumbang lebih dari setengah total keseluruhan ekspor, turun sebesar 13,1% pada Januari akibat pelemahan pengiriman produk gulungan baja pipih ke China dan peralatan semikonduktor ke Korea.

Sementara itu angka ekspor ke Uni Eropa turun 2,5% secara tahunan, untuk pertama kalinya dalam empat bulan.

Di sisi lain, para analis, pejabat pemerintahan dan produsen otomotif mulai khawatir dengan surplus dan peningkatan ekspor ke Amerika Serikat yang dapat memicu kenaikan bea cukai.

Impor mobil ke AS mencapai dua pertiga dari surplus perdagangan tahunan Jepang senilai US$69 miliar, hal ini menimbulkan kritik dari Presiden AS Donald Trump. 

Departemen Perdagangan A.S. mengirim laporan pada Minggu (17/2) kepada Trump yang dapat memicu tarif tinggi terhadap produk mobil dan suku cadang impor.

Data perdagangan menunjukkan, pada Januari, pengiriman mobil ke AS tumbuh 23,2% menjadi 139.579 unit.

Secara keseluruhan impor Jepang turun 0,6% secara tahunan atau lebih kecil dari estimasi rata-rata sebesar 2,8%.

Neraca perdagangan mencapai defisit 1,41 triliun yen, lebih tinggi dibandingkan dengan 1,01 triliun yen yang diperkirakan oleh para ekonom.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top