RBA Pantau Efek Pelemahan Properti dan Pertumbuhan Upah

Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menegaskan kembali posisi mereka terhadap proyeksi konsumsi rumah tangga yang terhalang jatuhnya harga properti, pertumbuhan pendapatan yang lemah dan utang yang tinggi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  14:38 WIB
RBA Pantau Efek Pelemahan Properti dan Pertumbuhan Upah
RBA - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menegaskan kembali posisi mereka terhadap proyeksi konsumsi rumah tangga yang terhalang jatuhnya harga properti, pertumbuhan pendapatan yang lemah dan utang yang tinggi.

Bank sentral mengatakan konsumsi akan terus melemah dengan pelemahan dari sektor properti disertai dengan potensi penurunan harga yang lebih rendah.

"Kondisi ini akan menyebabkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang lebih rendah, peningkatan tingkat pengangguran dan inflasi yang menjadi lebih rendah," ujar RBA melalui risalah pertemuan dewan gubernur pada Februari, seperti dikutip oleh Bloomberg, Selasa (19/2/2019).

Gubernur RBA Philip Lowe mengesampingkan bias pengetatan moneter. RBA kali ini lebih condong kepada prospek kebijakan yang lebih netral di tengah peningkatan risiko dari dalam dan luar negeri serta penurunan perkirakaan pertumbuhan ekonomi domestik.

Namun dia menyatakan, pertumbuhan akan tetap didukung dari tingkat perekrutan pekerja yang kuat sehingga dapat menekan tingkat pengangguran. Hal ini akan memicu pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat dan kenaikan inflasi dalam waktu dekat.

"Para anggota mencatat bahwa ada ketidakpastian yang signifikan terkait proyeksi ekonomi yang membandingkan skenario antara lain kenaikan suku bunga bank sentral dengan potensi pemangkasan suku bunga," ujar bank sentral dalam catatan yang dipublikasi.

Australia berada dalam situasi yang tidak biasa dengan penurunan harga rumah yang signifikan di Sydney dan Melbourne meskipun dengan suku bunga pinjaman yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang solid dan lapangan kerja yang kuat.

Risalah pertemuan tersebut menyebutkan dewan gubernur menghabiskan beberapa waktu untuk meninjau kembali studi terkait implikasi pasar perumahan untuk prospek ekonomi.

Isu yang menjadi fokus bank sentral saat ini adalah apakah pelemahan belanja masyarakat disebabkan oleh rumah tangga yang mulai merasa lebih miskin sehingga enggan untuk mengambil risiko dalam menanggapi penurunan pasar properti.

Selain itu, pelemahan belanja masyarakat juga terlihat dalam data PDB yang dirilis pada Desember 2018 yang mencatatkan penurunan dari periode sebelumnya.

"Prospek konsumsi terus menjadi salah satu ketidakpastian utama untuk perkiraan ekonomi domestik, mengingat penurunan harga properti, pertumbuhan pendapatan rumah tangga yang rendah dan tingkat utang yang tinggi," kata RBA.

Dolar Australia menguat 71.21 sen dari dolar Amerika Serikat pada pukul 11:35 waktu Sydney, jika dibandingkan dengan 71.29 sen yang tercatat pada saat risalah ini dirilis.

Para trader futures bertaruh dengan peluang 50% bahwa RBA akan memangkas suku bunga acuan mereka tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
australia

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top