Di Balik Keindahan Bedhaya Senapaten di Mangkunegaran Solo

Tujuh seniman senior Solo yang dikomandoi dosen tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Daryono, 60, menari pelan di antara pilar-pilar Pendapa Prangwedanan Pura Mangkunegaran Solo, Rabu (6/2/2019) pagi.
Ika Yuniati | 08 Februari 2019 15:04 WIB
Penari mementaskan Tari Bedhaya Senapaten dalam acara Ujian Terbuka Promosi Doktor Institut Seni Indonesia Solo, Daryono, di Pendapa Prangwedanan Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (6/2/2019).(Solopos - M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO – Tujuh seniman senior Solo yang dikomandoi dosen tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Daryono, 60, menari pelan di antara pilar-pilar Pendapa Prangwedanan Pura Mangkunegaran Solo, Rabu (6/2/2019) pagi.

Mereka disertai 11 penyimping perempuan dan laki-laki yang duduk bersila di sisi kiri, kanan, dan belakang. Mereka menghayati setiap gerak karya klasik yang merupakan rekonstruksi dari Bedhaya Senapaten.

Sesuai dengan latar narasi yang diusung, salah satu momentum Mangkunagara I (R.M. Said) dan bala tentaranya ketika bergerilya melawan VOC dibawakan dengan gagah. Suara drum sebagai simbol penyemangat beberapa kali dipukul bersama iringan gamelan. Para penari dilengkapi dengan properti replika pistol, senjata laras panjang, dan tombak kecil. Dibawakan selama hampir 30 menit, tarian gubahan Daryono dalam rangka ujian terbuka tugas akhir karya seni Program Doktor Pascasarjana ISI Solo ini disambut dengan riuh tepuk tangan begitu para penari senior tersebut mengakhiri pertunjukan.

Rekonstruksi beksan ageng yang digarap Daryono sejak 2007 setelah menyutradarai sendratari kolosal 250 Tahun Adeging Pura Mangkunegaran itu sengaja dipentaskan perdana di Pura Mangkunegaran. Daryono ingin membangun kembali ingatan penonton pada kejayaan karya tersebut sekaligus mengenang perjuangan R.M. Said saat bergerilya melawan penjajah.

“Kalau dulu tari ini digunakan sebagai alat penyemangat perjuangan agar bebas dari VOC, sekarang maknanya berbeda. Saya angkat kembali kemudian diimplementasikan pada konteks sekarang, pada kehidupan yang lebih luas. Saya memaknai karya ini sebagai perekat kehidupan secara luas supaya tetap tenteram, stabil, dan saling menghargai,” jelasnya saat berbincang dengan Solopos.com.

Rampung tampil, Daryono masih harus menghadapi ujian terbuka yang melibatkan para seniman dan budayawan Solo seperti Sardono W Kusumo (Promotor), Sri Rochana Widyastutieningrum, dan Silvester Pamardi (Kopromotor), Rahayu Supanggah, Eko Supriyanto, Sal Murgiyanto, dan beberapa penguji lain. Berlangsung selama dua jam, ujian menuju gelar Doktor tersebut akhirnya rampung dengan nilai memuaskan yaitu 3,87.

Sardono saat membuka acara utama memuji Daryono yang telah mendedikasikan tiga perempat hidupnya untuk belajar dan berlatih tari Jawa. Sebenarnya tak mudah bagi seorang penari bisa menguasai tarian halus bedhaya di usianya yang menginjak 60 tahun. Tapi Daryono mampu menyelesaikan tantangan tersebut.

Sardono berpesan agar ISI Solo memberi ruang bagi Daryono untuk terus mengembangkan karyanya secara praktik maupun akademis. “Kita semua sudah menyaksikan bagaimana di abad milenial ada orang yang tubuhnya masih mampu alami kawruh yang biasanya dijalani dan kasarira manusia 200-an tahun lalu. Ini mungkin juga bisa jadi rujukan ketika kita pada era milenial ini mengalami berbagai macam ilmu dan gaya hidup,” kata dia.

Tag : everton
Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top