Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Keuangan Jepang Libur 10 Hari, Investor dan Trader Negeri Sakura Resah

Dalam rangka perayaan penobatan kaisar baru Jepang, pemerintah telah mengumumkan hari libur panjang bagi pasar keuangan selama 10 hari yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  21:23 WIB
ilustrasi - Reuters
ilustrasi - Reuters
Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam rangka perayaan penobatan kaisar baru Jepang, pemerintah telah mengumumkan hari libur panjang bagi pasar keuangan selama 10 hari yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejumlah investor khawatir penutupan pasar lebih dari sepekan dapat menyebabkan gangguan ekonomi dan stabilitas yen.
Jepang biasanya memiliki serangkaian hari libur dari akhir April hingga awal Mei yang disebut dengan "Golden Week". Namun tahun ini, bersamaan dengan penobatan Putra Mahkota Naruhito sebagai kaisar baru pada 1 Mei 2019, pemerintah menetapkan tanggal 27 April - 6 Mei sebagai hari libur pasar.
Penetapan ini akan menjadi hari libur terpanjang bagi pasar saham dan obligasi Jepang. Pusat keuangan berskala besar sangat jarang mengalami periode penutupan yang begitu lama. Sebagai contoh, pasar keuangan Amerika Serikat hanya tutup selama enam hari setelah serangan 9/11 pada 2001 silam.
"Mengerikan jika kita tidak bisa melakukan perdagangan selama enam hari kerja. Sulit untuk mengambil keputusan saat ini tapi saya akan memastikan posisi netral sebelum liburan dimulai," ujar kepala investasi di Libra Investment Yasuo Sakuma, seperti dikutip oleh Reuters, Rabu (30/1).
Badan pengawas keuangan Jepang telah mengarahkan seluruh institusi finansial untuk memperingatkan konsumen tentang kemungkinan gejolak pada pasar ekonomi global selama periode shutdown berlangsung dan memastikan agar sistem mereka dapat mengatasi peningkatan kesibukan sebelum dan setelah liburan dimulai.
Selama periode libur tersebut ada sejumlah agenda penting yang akan berlangsung yakni pertemuan dewan pengurus kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat serta Bank Sentral Inggris, publikasi data payroll AS, publikasi data PDB AS dan Zona Euro, serta laporan keuangan perusahaan di seluruh dunia.
"Dalam 10 hari dunia akan berubah banyak," ujar seorang trader mata uang di bank asal Jepang.
Pelaku pasar mengatakan trader mata uang dari sejumlah bank dan asuransi besar seperti MUFG Bank, Sumitomo Mitsui Bank, Mizuho Bank dan Nippon Life Insurance diperkirakan akan tetap bekerja dari rumah selama liburan.
Namun mereka menambahkan hal tersebut akan sedikit sulit mengingat keterbatasan data yang dapat di akses dari luar kantor.
Para pengelola dana (fund manager) di sisi lain mengatakan mereka perlu menetapkan posisi netral paling lambat pada akhir April untuk menghindari paparan risiko dari pasar yang selalu berubah.
Libur panjang ini juga akan mengganggu kondisi perdagangan mata uang. Para spekulan memberikan pandangan bullish terkait kemampuan yen untuk menguat selama momen liburan.
Yen telah menguat terhadap dolar sejak awal Oktober 2018 di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global dan perang perdagangan AS-China.
Kyoya Okazawa, Kepala Klien Institusional Asia-Pasifik BNP Paribas, mengatakan saham Jepang akan lebih bergejolak pasca libur panjang mendatang.
Menurutnya pasar akan lebih fleksibel ketika kondisi likuiditas menjadi lebih rendah menjelang dan pada hari libur. Sebagian investor mungkin akan mengubah harga pasar, seperti dana lindung nilai, selama liburan mendatang. 
Namun Okazawa mengingatkan terhadap risiko penguatan yen yang mungkin terjadi.
"Katakanlah dolar jatuh dari 100 yen menjadi 90 yen selama libur berlangsung. Seperti apa Nikkei kemudian? Tidak ada yang dapat memprediksi tepatnya. Sebagian besar tidak dapat memiliki gambaran jelas bahwa pasar telah jatuh," katanya.
Okazawa juga memperkirakan banyak investor yang akan melakukan lindung nilai atas risiko tersebut dengan membeli opsi pada konversi dolar AS dengan yen dan saham Jepang. Hal ini memberi mereka hak, tetapi bukan kewajiban, untuk berdagang.
“Dalam 10 hari, apa pun bisa terjadi. Tapi semua kemungkinan dapat terjadi sehingga Anda tidak bisa keluar dari pasar," kata Bill Maldonado, kepala investasi global untuk ekuitas di HSBC Global Asset Management.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang bursa jepang
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top