Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masjid Digranat 2 Orang Tewas, Insiden Berselang 3 Hari Pasca  Bom Gereja di Filipina

Sebuah granat yang dilemparkan ke dalam salah satu masjid di Filipina selatan menewaskan dua orang dan melukai empat orang lain, kata petugas keamanan pada Rabu (30/1/2019). Insiden ini hanya berselang tiga hari pascainsiden bom kembar di gereja di sebuah pulau yang menewaskan 21 orang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  10:48 WIB
Loading the player ...
Video koleksi One News PH di Youtube

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah granat yang dilemparkan ke dalam salah satu masjid di Filipina selatan menewaskan dua orang dan melukai empat orang lain, kata petugas keamanan pada Rabu (30/1/2019). Insiden ini hanya berselang tiga hari pascainsiden bom kembar di gereja di sebuah pulau yang menewaskan 21 orang.

Insiden terjadi setelah Selasa tengah malam (29/2/2019) di Zamboanga, provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen di wilayah Mindanao. Zamboanga berada tidak jauh dari kepulauan Sulu yang kebanyakan Muslim, tempat insiden pengeboman gereja pada Minggu.

Militer menyerukan agar komunitas-komunitas di Mindanao bersatu dan mendesak masyarakat supaya tidak berspekulasi di media sosial yang dapat menyebarkan informasi yang tak akurat.

Komandan satgas wilayah Kolonel Leonel Nicolas menekankan bahwa insiden tersebut "bukan aksi balas dendam".

Serangan terjadi beberapa jam setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan dalam siaran televisi bahwa ledakan ganda yang menewaskan 21 orang di Pulau Jolo kemungkinan serangan bunuh diri.

Komentarnya bertentangan dengan pernyataan para pejabat keamanan lain namun, jika dibenarkan, hal tersebut dapat menjadi salah satu kasus serangan bunuh diri pertama di Filipina dan konsisten dengan pengakuan kelompok ISIS yang disiarkan melalui kantor berita miliknya, Amaq.

Insiden-insiden tersebut menyusul referendum 21 Januari yang berjalan damai dan sukses. Para pemilih menyetujui otonomi bagi sekitar 5 juta penduduk di daerah-daerah yang mayoritas Muslim di Mindanao, menyusul perjuangan separatis selama beberapa dekade yang telah menewaskan sedikitnya 120.000 orang.

Muslim merupakan minoritas di Filipina yang penduduknya kebanyakan beragama Katolik dan mewakili sekitar 25 persen dari penduduk di wilayah Mindanao.

Kekerasan sektarian sangat jarang terjadi di sana dan rencana otonomi, yang bertujuan mengatasi kemiskinan, keterbelakangan dan kekerasan yang kronis, sebagian besar didukung oleh seluruh rakyat Filipina.

Dewan Ulama Semenanjung Zamboanga mengecam apa yang disebut sebagai satu "tindakan keji, tidak masuk akal dan tidak manusiawai" dan mendesak semua orang untuk tetap waspada.

Pemerintah meyakini faksi dari kelompok Abu Sayyaf menjadi dalang pengeboman di gereja. Saat kelompok tersebut berjanji setia kepada ISIS, kelompok tersebut terdiri dari sejumlah faksi dengan tujuan yang berbeda dan banyak terlibat dalam kasus pembajakan dan penculikan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

filipina

Sumber : Antara, Reuters

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top