Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diduga Terlibat Konspirasi Pilpres AS 2016, Sekutu Lama Donald Trump Ditahan

Roger Stone ditahan atas tuduhan memberi pernyataan bohong ke Kongres mengenai keterlibatannya dalam sebuah dugaan intervensi eksternal dalam Pemilihan Presiden AS 2016.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 26 Januari 2019  |  08:27 WIB
Roger Stone saat keluar dari pengadilan federal, Jumat (25/1/2019) - Reuters/Joe Skipper
Roger Stone saat keluar dari pengadilan federal, Jumat (25/1/2019) - Reuters/Joe Skipper

Bisnis.com, JAKARTA - Sekutu lama Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditahan di Florida oleh otoritas keamanan pada Jumat (25/1/2019) dalam lanjutan penyelidikan dugaan intervensi Rusia dalam kampanye Pemilihan Presiden 2016 yang dipimpin oleh Penasehat Khusus Robert Mueller.

Roger Stone (66) dituntut dengan 7 dakwaan, yaitu 1 tuntutan karena sengaja menghalangi proses peradilan, 5 tuntutan karena pernyataan palsu terhadap Kongres, dan satu lainnya mengenai kesaksian yang menyesatkan. Dakwaan ini berkaitan dengan peretasan e-mail sejumlah pejabat Partai Demokrat yang diduga didalangi oleh Rusia.

Informasi yang termuat dalam e-mail bocor tersebut disebarkan oleh WikiLeaks pada masa kampanye Pemilihan Presiden 2016. Melansir CNN, Stone diduga mencari akses ke pendiri WikiLeaks Julian Assange mengenai kemungkinan adanya e-mail lain yang dapat melemahkan Partai Demokrat. Stone disebut berbagi informasi kepada tim kampanye Trump megenai hal itu.

"Setelah e-mail retasan dirilis oleh Organisasi 1 pada 22 Juli 2016, seorang pejabat senior Tim Kampanye Trump diarahkan untuk menghubungi STONE mengenai kemungkinan apakah Organisasi 1 memiliki informasi tambahan yang dapat merusak citra diri Tim Kampanye Clinton. STONE lalu mengatakan pada Tim Kampanye Trump mengenai potensi penyebarluasan informasi tambahan oleh Organisasi 1," demikian isi surat tuntutan terhadap Stone.

Sejumlah analis politik menilai penyebaran e-mail retasan tersebut, yang menyoroti perselisihan di dalam tubuh Demokrat, turut berkontribusi terhadap kekalahan mengejutkan Hillary Clinton dalam Pilpres 2016.

Dakwaan yang menyebut keterlibatan Stone menandai pertama kalinya Tim Kampanye Trump disebut berhubungan dengan WikiLeaks. Penangkapan Stone diperkirakan akan menambah tekanan terhadap Trump karena mayoritas Demokrat di DPR berencana meningkatkan penyelidikan.

“Perburuan penyihir terhebat dalam sejarah negara kita! TAK ADA KOLUSI!” tulis Trump di akun Twitter-nya setelah penangkapan Stone, menyinggung Mueller yang selama ini ia kecam sebagai seorang penyihir.

Kalimat dalam surat tuntutan tersebut tidak memperinci siapa yang memerintah pejabat senior untuk menghubungi Stone, namun muncul dugaan bahwa Trump sendirilah yang memerintahkannya.

Juru bicara Mueller, Peter Carr menolak mengomentari siapa yang memberi perintah itu. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan pada CNN bahwa penyelidikan terhadap Stone tidak berkaitan dengan Presiden dan juga Gedung Putih.

"Hal ini hanya melibatkan individu terkait, dan bukan sesuatu yang mempengaruhi kami [di Gedung Putih]," kata Sanders.

Stone, yang keluar dari Pengadilan Federal Florida pada hari yang sama setelah penahanannya Jumta dini hari waktu setempat, menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Stone juga mengatakan bahwa ia tidak akan memberi kesaksian yang dapat menyerang Donald Trump.

"Saya sudah menyatakan dengan jelas bahwa saya tidak akan memberi kesaksian untuk melawan Presiden. Karena saya akan menyatakan kesaskian palsu jika melakukan hal itu," katanya kepada wartawan.

Jika Trump terbukti memberi arahan, ia bisa terlibat dalam konspirasi untuk melanggar undang-undang peretasan federal, kata Paul Rosenzweig, seorang pengacara yang pernah bekerja dalam penyelidikan Whitewater ke mantan Presiden Bill Clinton.

Hal senada juga diungkapkan mantan jaksa federal Barbara McQuade. Ia mengatakan jika Trump terbukti memberikan arahan, hal itu bisa menjadi bukti bahwa presiden berpartisipasi dalam konspirasi untuk menipu penduduk Amerika Serikat melalui gangguan administrasi pemilihan yang adil.

Sejak penyelidikan terhadap dugaan kolusi Rusia dalam Pemilu 2016 AS dibuka oleh Penasehat Khusus Robert Mueller, lebih dari 30 orang telah mengaku bersalah dan didakwa. Mereka termasuk mantan pengacara dan teman dekat Trump, Michael Cohen dan mantan ketua tim kampanye Paul Manafort, serta 12 perwira intelijen Rusia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Donald Trump

Sumber : CNN

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top