Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Fenomena 'Split Ticket' dari Terbelahnya Dukungan Demokrat

Partai Demokrat menjadi partai paling terbelah pemilihnya dalam mendukung calon presiden-wakil presiden. Di waktu yang tersisa, partai berlambang Mercy ini janji bakal solid.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  19:16 WIB
Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) berfoto bersama dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) usai menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Galih Pradipta
Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) berfoto bersama dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) usai menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA – Partai Demokrat menjadi partai paling terbelah pemilihnya dalam mendukung calon presiden-wakil presiden. Di waktu yang tersisa, partai berlambang Mercy ini janji bakal solid.

Politisi Demokrat Roy Suryo mengatakan partainya memang sebelumnya membebaskan semua kader dalam mendukung pasangan capres-cawapres.

“Akan tetapi awal tahun dengan aktifnya internal di Prabowo-Sandi membuktikan bahwa kami serius kepada Prabowo-Sandi,” katanya di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Berdasarkan survei Indikator, hampir tidak ada partai politik yang memiliki basis pendukung untuk memilih sejalan dengan pasangan capres-cawapres yang mereka usung.

Demokrat sebagai pengusung pasangan pilpres nomor urut 02 memiliki pendukung yang sangat terbelah yaitu 40,5% kepada Jokowi-Ma’ruf dan 54,1% untuk Prabowo-Sandi. Indikator menyebut pemilih ini sebagai split ticket voting.

Split ticket dapat mengidentifikasi setidaknya dua hal, yaitu keberhasilan partai dalam menjaga loyalitas pemilih dan kekuatan personal peserta pilpres untuk menarik sebanyak mungkin pemilih, bahkan dari basis partai yang tidak mengusungnya.

Roy menjelaskan bahwa fenomena split ticket bukan hanya terjadi sekarang tapi juga pada 2004 saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden untuk periode pertama.

“Pada 2004 juga Demokrat sangat diuntungkan. Saat itu Demokrat memperoleh 7,5% di pemilu. Tapi sebagian besar pendukung Partai Golkar memilih SBY dibandingkan Wiranto,” ucapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilpres 2019
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top