Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyampaian Kebijakan Moneter Global Perlu Hati-Hati

Pasca pelonggaran moneter guna melawan krisis keuangan global, bank sentral sangat bergantung dengan petunjuk dan sinyal verbal dalam penyampaian panduan kebijakan ke depan (forward guidance).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 22 Januari 2019  |  19:30 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pasca pelonggaran moneter guna melawan krisis keuangan global, bank sentral sangat bergantung dengan petunjuk dan sinyal verbal dalam penyampaian panduan kebijakan ke depan (forward guidance).

Sejumlah bank sentral di berbagai belahan dunia diketahui telah menyiapkan simpanan amunisi kebijakan yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan untuk menjawab tantangan proyeksi ekonomi global.

Forward guidance dapat menjadi salah satu instrumen mereka yang memiliki sifat paling sensitif untuk memberikan gambaran terhadap langkah kebijakan mereka kepada pasar.

Namun di tengah potensi perlambatan ekonomi, penyampaian informasi terkait kebijakan moneter harus dilakukan secara hati-hati tanpa menyebabkan kebingungan pasar. Petunjuk atau sinyal verbal kerap kali disalahartikan jika penyampaiannya tidak mencapai sasaran.

"Pembentuk kebijakan di The Fed maupun Bank Sentral Eropa akan tetap menggunakan forward guidance sebagai instrumen stimulus moneter di masa depan," ujar Strategis Makro di NatWest Markets Mansoor Mohi-uddin, seperti dikutip Reuters, Selasa (22/1).

Sejumlah bank sentral terpaksa memangkas biaya pinjaman, bahkan dalam beberapa kasus bunga pinjaman berada di bawah nol, untuk melawan krisis keuangan global. 

Mereka juga berjanji untuk menjaga kondisi moneter tetap longgar sepanjang tahun ini dan berharap dapat menekan suku bunga jangka panjang serta memacu pertumbuhan ekonomi.

Satu dekade sejak krisis keuangan pada 2008, bank sentral kembali dihadapi dengan kondisi dimana mereka harus bergulat dengan penyusunan kata yang tepat saat mulai melakukan pelonggaran moneter sambil masih dihadapi dengan berbagai risiko dari perang dagang, isu Brexit hingga perlambatan ekonomi global.

Meski demikian, kondisi ekonomi global saat ini belum mencapai titik terendah di mana bank sentral perlu mengeluarkan kebijakan ekstrim.

The Fed masih mampu menahan kenaikan suku bunga acuan, Bank Sentral Eropa juga merasa kenaikan suku bunga acuan dapat dilakukan secara perlahan, sementara itu di sisi lain Bank Sentral Jepang menyatakan mereka akan mempertahankan stimulus yang sudah ada.

International Monetary Fund sebelumnya telah memperingatkan bank sentral untuk bersiap-siap menghadapi pelemahan pertumbuhan ekonomi yang lebih tajam seiring dengan proteksionisme perdagangan, tarif yang lebih tinggi dan turbulensi pasar keuangan yang membuat prospek semakin suram.

"Setelah dua tahun mengalami pertumbuhan yang sulit, ekonomi dunia saat ini bergerak lebih lambat dari perkiraan dan diikuti dengan risiko yang meningkat," ujar Direktur IMF Christine Lagarde.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Bank Sentral AS sempat memberikan kebingungan pasar setelah Gubernur The Fed Jerome Powell memberikan sinyal terkait kecepatan fase kenaikan suku bunga acuan dan rencana untuk menyusutkan neraca keuangannya.

Mencapai keseimbangan yang tepat antara transparansi dan fleksibilitas juga merupakan hal yang rumit.

“Forward guidance kadang-kadang efektif tetapi tidak selalu. Harus realistis dan kredibel. Hal itu tidak mudah," kata Kazuo Momma, ekonom eksekutif di Mizuho Research Institute dan mantan pejabat senior BOJ yang juga memiliki pengalaman merancang kebijakan moneter.

Menurut Momma, bank sentral tetap harus memperhatikan fleksibilitas forward guidance dalam situasi apapun. Jika terlalu ambigu, pasar tidak akan dapat menerima pesan yang dituju. Sementara jika panduan terlalu kaku, maka dapat membatasi ruang gerak bank sentral.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed kebijakan moneter
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top