Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Udara di Bangkok Terancam Kabut Asap Berbahaya

Udara ibukota Thailand berubah menjadi abu-abu dan gelap dalam beberapa hari terakhir, terutama pada pagi hari, karena perubahan cuaca musiman mencegah polutan seperti asap knalpot dan asap pabrik menghilang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 18 Januari 2019  |  12:07 WIB
Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand - Istimewa
Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk tahun kedua berturut-turut, udara di Bangkok terancam oleh kabut asap paling beracun di dunia.

Udara ibukota Thailand berubah menjadi abu-abu dan gelap dalam beberapa hari terakhir, terutama pada pagi hari, karena perubahan cuaca musiman mencegah polutan seperti asap knalpot dan asap pabrik menghilang.

Secara berkala, udara di Bangkok menjadi lebih buruk daripada di kota-kota yang lebih tercemar seperti New Delhi atau Shanghai.

Dilansir Bloomberg, Junta Thailand merespons dengan mengimbau warga Bangkok agar tetap tinggal di dalam rumah selama lonjakan polusi berbahaya dan mencancam akan menindak bangunan dan kendaraan yang kotor.

Sementara itu, badan urusan cuaca menerbangkan pesawat untuk mencoba membubarkan kabut. Namun kabut tidak menghilang, menandakan bahwa polusi tidak akan turun dalam waktu dekat.

Kakuko Nagatani-Yoshida, koordinator regional Program Lingkungan PBB untuk bahan kimia, limbah, dan kualitas udara mengatakan jumlah kendaraan di jalanan kota Bangkok semakin meningkat setiap bulannya.

"Crance konstruksi ada di setiap sudut kota. Bangkok sudah mengalami polusi udara hampir setiap hari. Apa yang kita lihat pekan ini hanyalah situasi ekstrim yang sudah tidak sehat," ungkap Kakuko, seperti dikutip Bloomberg.

Kota metropolitan dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa ini adalah satu dari banyak kota di seluruh dunia yang menghadapi bencana pencemaran udara yang mematikan. Menurut perkiraan Bank Dunia, polusi udara menyebabkan kerugian lebih dari US$5 triliun secara global pada tahun 2013 saja.

Di Bangkok, kabut asap mengancam kesehatan dan juga membuat jutaan turis pergi dari kota. Padahal, Bangkok menjadi darah kehidupan ekonomi Thailand.

Bangkok menerima lebih dari 20 juta pengunjung dari mancanegara pada tahun 2017, angka tertinggi di dunia menurut perkiraan yang disusun Mastercard Inc. Para wisatawan sebagian besar datang wisata kuliner, mengunjungi bar dan kehidupan malam yang terkenal, ataupun menuju ke resor pantai seperti Phuket.

Otoritas Pariwisata Thailand, yang berupaya memasarkan negara kepada wisatawan global, tampaknya tidak melihat ancaman serius bagi arus masuk wisatawan karena publisitas buruk yang dipicu oleh kabut asap.

"Ini merupakan keprihatinan bagi saya secara pribadi, tetapi ini belum menjadi perhatian bagi industri pariwisata," kata Wakil Gubernur Bangkok, Srisuda Wanapinyosak. "Banyak wisatawan menghabiskan waktu di pantai atau di pulau yang tidak mengalami masalah."

Namun, Kakuko mengatakan bahwa studi menunjukkan wisatawan mempertimbangkan hal-hal seperti polusi udara ketika memutuskan tujuan.

"Siapa yang ingin khawatir tentang polusi udara mematikan saat berlibur? Bangkok terkenal dengan bar dan restoran dengan pemandangan yang luar biasa. Tapi apa gunanya ketika mereka tidak bisa melihat langit cerah?" ungkapnya.

Pada 14 Januari, AirVisual mencatat Air Quality Index (AQI) di Bangkok naik melewati level 180 di pagi hari, menempatkan kota ini di peringkat 10 teratas kota yang paling tercemar di dunia.

Adapun angka di bawah 50 dianggap aman, sementara angka di atas 300 dianggap berbahaya.

Terlepas dari asap kendaraan dan pabrik, para pejabat mengatakan pembakaran tanaman untuk membersihkan lahan pertanian dan praktik membakar sampah juga turut memperburuk kabut asap.

Dalam kabut asap terdapat partikel PM2.5 kecil yang beracun, yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan memasuki aliran darah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bangkok
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top