Saran Pengamat Politik, Prabowo Jangan Bicara Ekonomi Makro Terus-terusan

Calon presiden Prabowo Subianto dinilai harus mengubah narasi politiknya jika ingin mengejar elektabilitas calon presiden petahana Joko Widodo dan memenangkan pemilihan presiden pada tahun depan.
Lingga Sukatma Wiangga
Lingga Sukatma Wiangga - Bisnis.com 04 Desember 2018  |  16:57 WIB
Saran Pengamat Politik, Prabowo Jangan Bicara Ekonomi Makro Terus-terusan
Calon Presiden Prabowo Subianto menunjukan dua jari seusai mengikuti pengundian dan penetapan nomor urut di gedung KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Kabar24.com, JAKARTA — Calon presiden Prabowo Subianto dinilai harus mengubah narasi politiknya jika ingin mengejar elektabilitas calon presiden petahana Joko Widodo dan memenangkan pemilihan presiden pada tahun depan.

Hal itu dikatakan Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio dalam diskusi bertajuk Carut Marut Komunikasi Kebijakan Jokowi: Konsistensi, Inkonsistensi dan Ambivalensi di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Hendri, kondisi politik menjelang 2019 berbeda dengan kontestasi pemilu presiden sebelumnya. Sehingga, narasi politik yang dibawakan Prabowo pada 4 tahun lalu harus diubah.

Dia menjelaskan, narasi politik yang harus diwacanakan menghadapi pemilu presiden 2019 adalah masalah ekonomi yang langsung menyentuh tataran akar rumput.

“Enggak usah bicara ekonomi [makro] terus-terusan, karena itu sih indikatornya. Misalnya kita bertempur dengan [pertumbuhan ekonomi yang] meroket 7% kemudian sekarang hanya 5,2%, enggak ngerti juga orang. Yang kita lihat kan narasinya ini seberapa kenyang perut rakyat, seberapa lama mereka bisa tidur nyenyak,” ujarnya, Selasa (4/12/2018).

Di sisi lain, kata dia, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan menghadapi narasi politik calon petahana yang akan mengedepankan suksesnya pembangunan infrastruktur.

Hendri pun memperkirakan, untuk mempertahankan elektabilitasnya Presiden Joko Widodo akan mengeluarkan kebijakan populis yang meniru gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memenangkan pemilu presiden 2009.

“Saya yakin 2019 Pak Jokowi akan gelontorkan bantuan-bantuan itu. Terus akan  melakukan peresmian-peresmian infrastruktur. Karena itu satu-satunya cara. Infrastruktur itu monumennya Pak Jokowi, prasastinya Pak Jokowi. Sekarang kan tinggal tantangan-tantangannya Pak Prabowo mau apa. Makanya tadi saya tegaskan pesan komunikasinya harus diubah. Enggak boleh sama seperti 2014,” tuturnya.

Di sisi lain Hendri yang juga pendiri lembaga survei KedaiKOPI mengapresiasi gaya kampanye Sandiaga Uno sebagai pasangan Prabowo. Sandi sempat berkampanye dengan menyinggung tempe dan petai dinilainya mudah dipahami masyarakat bawah.

“Karena mengerti, mereka paham bahasa ekonomi yang ingin disampaikan Mas Sandi. Kalau kemudian larinya ke angka, ke angka, dan angka  memang susah,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top