Keragaman Hayati Perlu Dikembangkan untuk Dukung Ketahanan Pangan

Keragaman hayati menjadi potensi sumber daya pangan Indonesia yang pemanfaatannya perlu dikembangkan guna mendukung ketahanan pangan.
Keragaman Hayati Perlu Dikembangkan untuk Dukung Ketahanan Pangan Newswire | 30 November 2018 21:12 WIB
Keragaman Hayati Perlu Dikembangkan untuk Dukung Ketahanan Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kanan) saat acara pelepasan ekspor produk hortikultura bawang merah, mangga dan benih sayuran asal Jatim di Kantor Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Senin (8/10/2018). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, MAGELANG – Keragaman hayati menjadi potensi sumber daya pangan Indonesia yang pemanfaatannya perlu dikembangkan guna mendukung ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal, kata Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Benny Rachman.

"Mari kita dukung ketahanan pangan berbasis lokal menuju daya saing bangsa dimulai dari diri kita sendiri," katanya dalam keterangan tertulis tentang Seminar Nasional Merapi Integrated Sustainable Agriculture diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Tidar Kota Magelang yang dikeluarkan Humas Untidar di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (30/11/2018).

Dia mengemukakan pentingnya masyarakat mengonsumsi makanan berbahan dasar lokal, seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan guna mendukung pengembangan potensi sumber daya pangan dalam negeri itu.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang terdiri atas 100 jenis sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

Dia mengemukakan tentang pentingnya dukungan berbagai pihak untuk mewujudkan industri pangan berbasis lokal.

Pemerintah daerah, kata dia, juga dituntut untuk mempromosikan secara baik tentang berbagai potensi pangan lokal.

"Kantor-kantor dinas supaya mengurangi kegiatan koordinasi tetapi dialihkan menjadi kegiatan promosi-promosi pangan lokal dan harus konsisten dengan tujuan bangsa, yaitu menjadi lumbung pangan dunia," ujar Benny.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Totok Agung mengemukakan tentang kebiasaan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, mengonsumsi mi instan sebagai hal yang tidak menguntungkan bagi ketahanan pangan dalam negeri, karena bahan bakunya berupa gandum, masih diimpor.

"Mari kita kurangi konsumsi gandum karena Indonesia masih mengimpor. Mahasiswa banyak yang sering makan mi instan. Kita mesti kembali ke singkong, jagung, kedelai, dan lain-lain," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ketahanan pangan

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top