Perubahan Iklim Akan Susutkan Ekonomi Amerika Serikat

Pemerintah Amerika Serikat merilis laporan terbaru perubahan iklim yang berisi peringatan akan potensi besar pengaruh perubahan iklim terhadap perekonomian negara tersebut.
Iim Fathimah Timorria | 24 November 2018 10:33 WIB
Gas rumah kaca. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat merilis laporan terbaru perubahan iklim yang berisi peringatan akan  potensi besar pengaruh perubahan iklim terhadap perekonomian negara tersebut.

AS bisa kehilangan ratusan triliun dolar dan dalam skenario terburuk, 10% PDB-nya pada akhir abad 21.

Laporan itu mengatakan perubahan iklim "menghadirkan tantangan yang semakin besar terhadap kesehatan dan keselamatan manusia, kualitas hidup, dan laju pertumbuhan ekonomi".

Pertanian AS diperkirakan akan menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Kualitas dan kuantitas hasil panen mereka akan menurun karena suhu yang lebih tinggi, kekeringan dan juga banjir.

Di bagian Midwest, peternakan hanya akan mampu memproduksi kurang dari 75% dari jagung yang mereka hasilkan hari ini, dan bagian selatan dari wilayah itu bisa kehilangan lebih dari 25% dari hasil kedelai.

Studi yang merupakan mandat pemerintah federal tersebut sedianya keluar pada bulan Desember, tetapi dirilis lebih cepat oleh administrasi Trump pada Jumat (23/11/2018), bertepatan dengan libur panjang peringatan Thanksgiving di Amerika.

David Easterling, direktur Unit Dukungan Teknis di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) untuk Informasi Lingkungan, menekankan bahwa "tidak ada campur tangan eksternal dalam perkembangan laporan."

"Suhu rata-rata global jauh lebih tinggi dan meningkat lebih cepat daripada yang pernah dialami peradaban modern, dan tren pemanasan ini adalah dampak aktivitas manusia," kata Easterling dilansir CNN pada Jumat (23/11/2018).

Laporan ini adalah hasil studi dari Program Penelitian Perubahan Global AS (USGCRP), sebuah tim yang merupakan gabungan dari 13 lembaga federal AS dan 1.000 orang, termasuk 300 ilmuwan ternama.

Adapun hasil temuan ini sangat kontradiktif dengan kampanye konsisten Presiden donald Trump yang mengatakan bahwa perubahan iklim adalah hoaks.

Pada Rabu (21/11/2018), Trump melalui akun Twitter-nya mengeluarkan cuitan yang berbunyi, "Apa yang terjadi dengan Pemanasan Global?" sebagai respon atas suhu dingin yang dirasakan sejumlah wilayah di Amerika Serikat selama peringatan Thanksgiving.

Menanggapi hasil studi tersebut, Gedung Putih menyebut hasil yang dilaporkan tidaklah akurat.

"Studi tersebut didasari skenario terburuk yang kontradiktif dengan tren terbaru. Studi tersebut berangkat dari asumsi bahwa tidak akan ada inovasi dan perkembangan teknologi serta pertumbuhan penduduk diperkirakan tumbuh dengan cepat," kata juru bicara Gedung Putih Lindsay Walters diansir BBC pada Jumat (23/11/2018).

Tag : perubahan iklim
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top