Habis Sontoloyo Terbitlah Genderuwo. Ini Tafsir Pengamat atas Pernyataan Jokowi

elum hilang istilah politik sontoloyo dari ingatan masyarakat, Presiden Joko Widodo kembali mengeluarkan pernyataan yang tak lazim dalam istilah politik. Presiden kali ini menyebutkan istilah politik genderuwo.
Muhammad Ridwan | 09 November 2018 17:29 WIB
Presiden Joko Widodo saat menyampaikan arahan pada Pembekalan Calon Anggota DPR Partai Hanura di Ancol, Jakarta, Rabu (7/11/2018). Presiden memberikan arahan kepada 427 orang Calon Anggota DPR Partai Hanura periode 2019-2024. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Belum hilang istilah politik sontoloyo dari ingatan masyarakat, Presiden Joko Widodo kembali mengeluarkan pernyataan yang tak lazim dalam istilah politik. Presiden kali ini menyebutkan istilah politik genderuwo.

Mengapa pria yang akrab disapa Jokowi mengeluarkan pernyataan aneh dan terkesan menyerang pihak tertentu? Apakah ia mulai kehilangan sikap bersahajanya?

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar menilai pernyataan orang nomor 1 di Indonesia itu tidak menghilangkan sikapnya yang bersahaja.

Pasalnya, menurut Idil, istilah politik sontoloyo dan politik genderuwo tersebut tidak ditujukan kepada masyarakat, melainkan kepada politisi-politisi Indonesia. Meski memang, lanjut Idil, pemilihan kata yang digunakan sedikit terkesan kasar.

“Jadi kalau saya sih lihatnya kalau dari sisi pernyataan ya, memang kalau beliau ada pernyataan atau istilah lain yang lebih halus mungkin bisa disampaikan, ” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (9/11/2018).

"Tapi bahwa itu adalah kemudian yang menjadi sasarannya adalah politisi, bukan masyarakat, itu menjadi sesuatu yang positif," lanjut Idil.

Pemilihan diksi-diksi yang sebetulnya tidak lazim digunakan, dijelaskan Idil, merupakan peringatan keras kepada politisi, dalam hal ini adalah para  politisi sontoloyo. "Politisi diingatkan agar lebih bersikap bijak, lebih bersikap mampu membawa pengaruh positif kepada masyarakat," tegas Idil.

Terkait istilah politik genderuwo, lanjut Idil, itu lebih ditujukan kepada realitas politik yang dibangun politisi kepada masyarakat sehingga menciptakan sesuatu yang menakutkan.

“Nah itu yang kemudian diingatkan dan juga diminta kepada para politisi oleh Presiden agar hal-hal politik semacam itu tidak lagi dilakukan” jelasnya.

Puncak Kemarahan Presiden

Sementara itu pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe mencermati fenomena ini sebagai puncak kemarahan Presiden Jokowi terhadap situasi anak bangsa saat ini, khususnya dalam hal politik.

Ramses mengatakan, maraknya berita hoaks, pembelokan fakta, dan narasi-narasi kebohongan membuat mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak tahan lagi untuk tidak mengungkapkan kekesalannya.

“Saya menduga Presiden marah atas perilaku sekelompok orang khususnya elite politik yang kerap menyuarakan hoaks, sehingga dia marah,” ucapnya.

Ia juga memiliki anggapan yang sama tentang istilah politisi sontoloyo dan politik genderuwo, ia beranggapan istilah tersebut digunakan untuk mengingatkan politisi agar memberikan pendidikan-pendidikan yang positif kepada masyarakat.

“Saya kira itu cara tertinggi mengingatkan politisi agar tidak melakukan hal yang sama agar generasj ke depannya mendapatkan pendidikan politik yang baik,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyindir aksi para politikus yang gemar menyebar propaganda menakutkan yang disebutnya sebagai politik genderuwo.

Di hadapan 3.000 penerima sertifikat di Kabupaten Tegal, Jokowi mengemukakan bahwa saat ini banyak politikus yang sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang menakutkan.

 "Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwa [baca: gerenduwo], nakut-nakuti," katanya di Tegal, Jumat (9/11/2018).

Selengkapnya silakan baca: Habis Politisi Sontoloyo, Jokowi Munculkan Istilah Politik Genderuwo 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jokowi, Pilpres 2019, sontoloyo, genderuwo

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top