Adu Kampanye Trump vs Obama Warnai Pemilu Sela AS

Pekan terakhir masa kampanye jelang Pemilihan Sela Amerika Serikat 2018, panggung politik menjadi milik Presiden Donald Trump dan pendahulunya Barack Obama. Keduanya beradu janji untuk tujuan yang kurang lebih sama, mengamankan kursi di kongres untuk partai mereka.
Iim Fathimah Timorria | 04 November 2018 15:35 WIB
Pemilu Sela AS: Milik Trump (kiri) dan Obama (kanan) - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pekan terakhir masa kampanye jelang Pemilihan Sela Amerika Serikat 2018, panggung politik menjadi milik Presiden Donald Trump dan pendahulunya Barack Obama.

Keduanya beradu janji untuk tujuan yang kurang lebih sama, mengamankan kursi di kongres untuk partai mereka.

Donald Trump harus puas mendapat tekanan dari Obama setelah sempat mengeluhkan pencapaian ekonomi dan melanjutkan kampanye anti-imigran. Sementara itu, Obama dengan lihai memainkan peran penting di pekan terakhir kampanye.

Republik lewat Trump terlihat berusaha keras mempertahankan dukungan. Lihat saja bagaimana Trump tanpa henti mengikuti jadwal kampanye yang ketat.

Ia harus menghadiri kampanye di Montana dan Florida akhir pekan ini. Padahal ia dan Ibu Negara Melania Trump sudah mengunjungi Florida Rabu lalu menyusul peristiwa penembakan anti-semit yang menewaskan 11 orang Yahudi,

"Kongres dengan Partai Republik berarti peningkatan lapangan kerja dan penurunan tindak kriminal. Kongres dengan Partai Demokrat sama dengan peningkatan tindak kriminal dan lebih sedikit lapangan kerja, sesederhana itu. Ya, saya menyukainya," kata Trump di hadapan para pendukung di Belgrade, Montana, Sabtu (3/11/2018).

Trump menyatakan Partai Republik berada di kondisi yang baik jelang pemilihan sela. Kondisi ini tidak terlepas dari laporan tingkat pengangguran terbaru yang menunjukkan peningkatan performa ekonomi Amerika Serikat.

Kendati demikian, hasil survei terbaru menunjukkan bahwa Partai Demokrat berpotensi merebut dominasi di DPR. Hal ini tentu saja menjadi ancaman bagi pemerintahan Trump karena dominasi partai oposisi hanya berarti satu hal: kebijakan pemerintahannya rawan dijegal.

Babak terakhir kampanye menjadi saksi pertarungan Trump dan Obama. Jumat lalu Obama kembali tampil di hadapan publik untuk memberi dukungan pada Demokrat

Obama dijadwalkan berkampanye pada hari Minggu di kampung halamannya, Chicago, sekaligus ke Indiana untuk mendukung Senator Demokrat Joe Donelly yang terancam posisinya.

Pada kampanye di Georgia, Obama menjelaskan kembalinya ia ke panggung politik adalah untuk meyakinkan penduduk AS menggunakan hak suaranya.

"Saya di sini hanya untuk satu alasan: meminta Anda menggunakan hak suara," kata Obama.

Obama menyebut terdapat konsekuensi yang besar jika masyarakat tidak menggunakan hak suara karena AS tengah berada di persimpangan. "Karakter negeri ini bergantung pada hasil suara mendatang," lanjutnya.

Ia berkali-kali mengkritik kebijakan Trump terkait penanggulangan imigran yang kontroversial. Ia turut mengecam pengiriman pasukan ke perbatasan yang ia nilai sebagai aksi politik untuk membuat masyarakat marah.

Meski kerap memamerkan catatan perekonomian AS yang menunjukkan peningkatan jumlah lapangan kerja, di sisi lain Trump juga mengampanyekan ancaman yang akan dialami AS jika membuka perbatasan untuk para imigran.

Ia menyebut AS tengah diinvasi oleh para pendatang dari Amerika Selatan meski catatan keimigrasian mencatat jumlah imigran ilegal turun empat kali lipat dibanding tahun 2000.

"Partai Demokrat telah mendorong jutaan orang-orang asing itu untuk melanggar aturan di negeri ini, mereka mengancam kedaulatan kita, menyerbu perbatasan kita, dan menghancurkan negara kita lewat berbagai cara," kata Trump di Pensacola, Florida pada Sabtu (3/11/2018), mengulangi jargon-jargon retorisnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obama, amerika serikat, Donald Trump

Sumber : Reuters/Twitter
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top