Penanganan Karhutla Butuh Tambahan Armada Pesawat Hujan Buatan

Operasi teknologi modifikasi cuaca atau TMC yang menjadi cara jitu dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di terkendala minimnya armada pesawat di lapangan.
Dinda Wulandari | 28 Oktober 2018 09:57 WIB
Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza (kedua dari kanan) menunjukkan operasi TMC di Palembang kepada Menristek Dikti Mohamad Nasir (kiri). Bisnis - Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG – Operasi teknologi modifikasi cuaca atau TMC yang menjadi cara jitu dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di terkendala minimnya armada pesawat di lapangan.

Oleh karena itu, pemerintah diminta dapat menambah jumlah sarana TMC yang operasinya selama ini dimotori oleh Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza, mengatakan pihaknya hanya memiliki dua armada pesawat terbang. Kedua pesawat ini pun dalam kondisi unserviceable.

“Karena kondisi pesawat yang unserviceable, saat ini BPPT dalam melakukan pelayanan TMC menyewa pesawat dengan pihak swasta,” katanya saat meninjau pelaksanaan operasi TMC di Palembang, Sabtu (27/10/2018).

Dia memaparkan pihaknya menyewa pesawat dari PT. Pelita Air Service dan terbatas hanya 1 buah pesawat, pasalnya pesawat yang digunakan untuk operasi TMC, haruslah pesawat khusus yang sudah dimodifikasi sesuai peruntukan.

Jadi hingga kini, padatnya Operasi TMC, untuk kegiatan tertentu atau kebencanaan seperti karhutla, lebih banyak didukung armada pesawat dari TNI Angkatan Udara.

Dia mengemukakan adapun pesawat yang dimiliki BPPT adalah jenis casa 212-200 yang digunakan untuk melakukan penyemaian awan dengan bahan semai powder (NaCl). Sedangkan 1 pesawat jenis piper cheyenne digunakan untuk melakukan penyemaian awan dengan bahan semai flare.

“Ke depannya kami harapkan adanya tambahan armada pesawat untuk menunjang kegiatan operasi TMC,” ujarnya.

Operasi TMC di Sumsel

Operasi TMC untuk mitigasi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampr setiap tahun dilakukan di Sumsel karena menjadi satu dari 6 provinsi rawan karhutla.

Hammam menilai TMC telah berdampak positif saat karhutla marak terjadi di daerah yang memiliki lahan gambut tersebut.

“Seperti jarak pandang yang baik sehingga kegiatan penerbangan tidak terganggu dan kondisi udara yang sehat karena tidak adanya asap yang dapat mengganggu pernapasan,” katanya.

Sementara itu, Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto, mengatakan kegiatan TMC di Sumsel telah dilakukan sejak 16 Mei 2018 hingga sekarang.

Pihaknya mencatat operasi TMC di Sumsel sudah menghasilkan air hujan sekitar 745,83 juta meter kubik sehingga dapat memadamkan titik api dan membasahi lahan gambut.

“Langkah itu untuk mencegah timbulnya titik api yang dapat menimbulkan bencana kebakaran hutan dan lahan,” terangnya.

Tri menambahkan Selain di Sumsel, BPPT telah membuka posko yang sama di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Kegiatan di Kalimantan Barat berlangsung dari tanggal 19 Agustus - 8 Oktober 2018 dan sudah menghasilkan air hujan sebanyak 472,68 juta meter kubik,” katanya

Selain untuk kebencanaan, dia menambahkan,sebetulnya operasi TMC dapat digunakan untuk mendukung program nasional pemerintah dalam program kedaulatan pangan. Khususnya dalam menjamin keberlangsungan pasokan air irigasi. 

Tag : kebakaran hutan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top