Suara Santri Pengaruhi Peta Politik

Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai jumlah santri secara proporsi sangat besar, sehingga akan memengaruhi peta politik nasional.
Newswire | 22 Oktober 2018 06:25 WIB
Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Ibu Negara Iriana Jokowi yang mengajak sang cucu Jan Ethes saat menghadiri acara Apel Akbar Santri di Benteng Vastenburg Solo, Sabtu (20/10). - Instagram@jokowi

Bisnis.com, JAKARTA - Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai jumlah santri secara proporsi sangat besar, sehingga akan memengaruhi peta politik nasional.

Dengan jumlah proporsi yang besar itu, menurut Pangi Syarwi Chaniago di Jakarta, Senin (22/10/2018), sangat wajar ketika momentum pemilu, para kontestan memperebutkan suara santri, mulai dari kontestasi tingkat lokal sampai pada level nasional.

"Wajar karena ceruk segmen suara santri ini cukup besar dan bisa mendongkrak elektabilitas," kata Pangi.

Ia menilai para politikus sangat paham akan keberadaan kaum santri yang secara proporsi sangat besar dan akan sangat memengaruhi peta politik.

Oleh karena itu, sangat wajar dukungan dari segmen ini memberi kontribusi yang sangat besar dan nyata terhadap tingkat keterpilihan dalam setiap hajatan konstestasi elektoral.

"Secara kultural para santri sangat manut, taat, dan patuh pada titah para kiai yang meraka anggap sebagai pemimpin dan guru mereka. Dengan demikian, suara santri ada di tangan kiai," ujarnya.

Pangi menilai untuk mendapatkan dukungan politik dari kalangan santri, para politikus harus melakukan pendekatan yang intens pada para kiai sebagai pemegang otoritas di wilayah pesantren.

Namun, para politikus saat ini harus memutar otak dan harus lebih sensitif karena para kiai juga sudah sangat berpangalaman, serta lihai dalam menghadapi situasi politik yang menempatkan mereka dalam pusaran perebutan dukungan.

"Sambutan dan keramahtamahan para kiai dan santri ketika datang untuk berkunjung ke pesantren bukanlah berarti mereka telah memberikan dukungan politik gratis," katanya.

Selain itu, Pangi menilai terkait fragmentasi kiai dan pesantren, sebaran, dan jumlah pesantren di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Jawa, menjadikan para kiai bersifat lebih otonom dalam membina dan mengurus pesantrennya masing-masing, bahkan sampai urusan politik.

Menurut dia, tidak ada alur komando dan instruksi yang membuat para kiai hanya mengikuti arus dukungan terhadap kandidat tetentu, bahkan yang tergabung dalam satu organisasi sakalipun.

"Situasi ini tentu membuka ruang kepada masing-masing kubu pendukung capres/cawapres untuk melakukan pendekatan yang lebih intensif karena peluang untuk mendapatkan dukungan dari kalangan santri masih terbuka lebar," katanya.

Pangi menilai suara santri dan kiai sering kali dijadikan sebagai komoditas politik semata dan dimanfaatkan, serta dipakai untuk kepentingan kendaraan politik semata.

Sumber : Antara

Tag : Pilpres 2019, pileg 2019
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top