Lempeng Bumi Itu Pasti Bergeser, Itu Pasti! Tapi ….

Manusia bisa berikhtiar mencegah gempa besar, begini caranya ....
M. Syahran W. Lubis | 14 Oktober 2018 17:44 WIB
Ilustrasi seseorang tengah berdoa. - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah pulang ke rumah selepas menunaikan salat zuhur pada Minggu (14/10/2018) tertahan di selasar masjid lantaran terantuk pada dua jiran yang tengah berbincang.

Terdorong oleh keinginan bersilaturahmi, duduklah saya bergabung dengan mereka. Namun, agaknya kali ini bukan silaturahmi biasa. Dua tetangga ini tengah terlibat dalam bahasan serius: soal gempa bumi!

                                                                             Ilustrasi lafaz Allah - Youtube MTF Channel

Kabarnya, Jakarta sedang dalam ancaman gempa. Kabarnya Info terakhir, gempa sudah merambah Situbondo, Jawa Timur, dengan kekuatan 6,4 skala Richter (SR).

“Itu di Pantura (pantai utara) Jawa lho, sama dengan Jakarta,” ungkap salah satu peserta diskusi dadakan memberi gambaran mengenai kemungkinan musibah serupa menerpa Ibu Kota.

Saya pun bercerita bahwa ancaman gempa keras mengguncang Jakarta sudah diungkapkan sejak puluhan tahun lalu. Jadi, itu bukan berita baru.

“Ya, tinggal kita berikhtiar mencegahnya. Kita bisa saja berupaya mencegahnya,” sergah peserta diskusi yang satu lagi, menyambung pernyataan saya.

Saya dan satu jiran lain pun terkesiap merespons perkataannya. Bagaimana mungkin manusia mampu untuk mencegah kedatangan gempa besar?

“Dengan doa,” katanya melihat respons kekagetan kami. “Kekuatan doa itu luar biasa,” sambungnya.

Menurutnya, perubahan sesar atau lempeng di dalam perut Bumi merupakan keniscayaan. Itu pasti, tak mungkin terelakkan. Namun, pergeseran itu bisa terjadi dengan dua cara: pertama, dengan cara keras dan mendadak yang menghasilkan gempa skala besar, atau kedua, sesar atau lempeng itu bergerak perlahan dan menghasilkan hanya gempa kecil secara bertahap, misalkan masing-masing kurang dari 3 SR.

“Dengan hanya terjadi rentetan gempa kecil kurang dari 3 SR, kita tidak akan merasakan kekuatan besar mengguncang Jakarta. Namun, secara perlahan-lahan sesar atau lempeng itu berubah ke posisi barunya yang relatif stabil,” paparnya.

“Bagaimana caranya? Memangnya kita bisa mengatur kekuatan gempa?” tanyaku menyergah penjelasannya.

“Dengan kekuatan doa,” katanya menegaskan. Kekuatan doa itu yang, dalam pandangannya, memungkinkan Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, mengubah proses pergeseran lempeng atau sesar di dalam perut Bumi menjadi perlahan-lahan, tidak serta-merta yang berwujud gempa besar.

“Lempeng itu pasti bergeser, itu pasti! Tinggal kita berdoa kepada Allah supaya prosesnya tidak sekaligus, tidak mendadak, jadi berwujud gempa besar!” tambahnya sambil memperhatikanku yang berupaya terus meyakinkan efek kekuatan doa, seraya menatap satu gedung tinggi tempatku dulu bekerja.

Tag : gempa, doa
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top