BMKG Minta Masyarakat NTT Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan

BMKG Minta Masyarakat NTT Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan
Newswire | 05 Oktober 2018 18:36 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari Kupang mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pada sembilan kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Potensi kebakaran lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen itu terjadi di Kabupaten Kupang, Timur Tengah Utara, Kabupaten Belu, Alor, Lembata, Flores Timur, Maumere, Manggarai, Sumba Timur, Sumba Tengah dan Nagekeo, kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Sabtu (5/10/2018).

"Berdasarkan data titik panas (hotspot) di NTT dari citra satelit MODIS Terra dan Aqua yang bersumber dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) ada sejumlah titik panas di wilayah NTT yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Wilayah-wilayah yang terpantau titik panas itu umumnya di Kabupaten Sumba Timur antara lain Matawai La Pawu, Kahaungu Eti, Rindi, Hahura.

Titik panas lain adalah Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah, Aesesa Kabupaten Nagekeo, Kotabaru, Ende, Solor Barat, Flores Timur, Tanjung Bunga, Flores Timur, Klubagolit, Flores Timur, Omesuri, Atadei, Lembata.

Pantar Tengah, Alor Timur Laut di Kabupaten Alor, Biboki Feotleu, Miomafo Timur, Musi, Miomafo Barat, di Kabupaten Timor Tengah Utara, Amfoang Timur, Amfoang Utara, Fatumnasi, Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang.

Dia menjelaskan, titik panas (hotspot) dapat digunakan untuk identifikasi awal kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Selang kepercayaan atau confidence level menunjukkan tingkat kepercayaan bahwa hotspot yang dipantau dari data satelit penginderaan jauh merupakan benar-benar kejadian kebakaran yang sebenarnya di lapangan.

Semakin tinggi selang kepercayaan, maka semakin tinggi pula potensi bahwa hotspot tersebut adalah benar-benar kebakaran lahan atau hutan yang terjadi, katanya menjelaskan.

Menurut dia, analisis data titik panas (hotspot) ini menggunakan data dengan tingkat kepercayaan = 80 persen. Kondisi ini dilakukan karena SiPongi sebagai sistem monitoring kebakaran hutan dan lahan lebih fokus untuk dapat mendeteksi indikasi kebakaran hutan dan lahan di lapangan dengan tingkat kemungkinan tertinggi, katanya.

Sumber : Antara

Tag : kebakaran hutan
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top