Gempa Palu: Pasar Tradisional sudah Beroperasi, Harga Sayuran Melambung 133 Persen

Kegiatan ekonomi di Kota Palu mulai berdenyut dengan beroperasinya Pasar Inpres, kendati harga jualnya meroket.  Harga sayur yang biasanya dibanderol Rp3.000 seikat hari ini, Kamis (4/10/2018) dijual seharga Rp7.000 atau naik 133%.
Newswire | 04 Oktober 2018 17:30 WIB
Nasabah melakukan transaksi di mesin ATM Bank Mandiri Syariah Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Kegiatan ekonomi di Kota Palu mulai berdenyut dengan beroperasinya Pasar Inpres, kendati harga jualnya meroket.  Harga sayur yang biasanya dibanderol Rp3.000 seikat hari ini, Kamis (4/10/2018) dijual seharga Rp7.000 atau naik 133%.

 Selain harga melonjak karena minimnya pasok sayuran akibat dampak gempa, kegiatan pasar tradisional tersebut mendapat pengawalan ketat oleh Personel Angatan Darat dibantu Kepolisian untuk menghindari tindak penjarahan, sebagaimana yang terjadi beberapa hari lalu yang melanda pertokoan di Palu.

Desy, pedagang pasar Inpres di Kota Palu, mengaku tenang dengan kehadiran aparat kemanan tersebut.

"Sudah mulai kita berjualan karena ada tentara yang menjaga keamanan. Sudah banyak pembeli membeli barang kebutuhan makanan," katanya di Palu, Kamis (4/10/2018) seperti dilaporkan Antara.

Meski demikian, pasokan barang untuk di jual seperti sayur-mayur, kebutuhan bahan pokok dan pangan lainnya terus berkurang sehingga memengaruhi harga kebutuhan dasar.

"Harga tentu sedikit naik karena stok berkurang, barang sedikit peminat banyak maka akan berpengaruh dengan harga," ujarnya.

Untuk harga sayur biasanya satu ikat di jual seharga Rp3.000 tapi naik menjadi Rp7.000 begitupun harga cabai, tomat, serta cabai merah keriting juga ikut naik. Kendati harga naik namun masyarakat tetap membeli kebutuhan pokoknya.

Sementara itu di pasar sentral Kota Palu juga mulai terlihat banyak pedagang membuka lapaknya, mereka merasa aman karena dijaga tentara bersenjata lengkap siap menghalau dan menangkapi oknum yang ingin mengacaukan sistem perekonomian yang mulai pulih.

 

"Aman pak, semua dijaga. Tentara sering berpatroli keliling pasar menjaga keamanan, pembeli juga semakin ramai disini," kata Anwar salah seorang pedagang.

Pria Bugis asal Kabupaten Pinrang ini sudah lama berjualan di pasar tersebut mengemukakan hadirnya aparat keamanan di pasar membuat ketenangan bukanhaya penjual tapi pembeli.

Sebelumnya, Kapendam XlII Merdeka Kolonel Infrantri  Thohir saat memberikan keterangan di Makorem 132 Tadulako, Palu, menegaskan telah dilakukan penambahan pasukan untuk mengamankan kota serta daerah terdampak gempabumi disertai tsunami di Kota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi.

Menurutnya, penambahan pasukan tersebut untuk memperkuat sistem keamanan kota dan daerah terdampak gempa agar situasi dan kondisi menjadi lebih kondusif, mengingat banyaknya perilaku oknum yang melakukan pelanggaran hukum menjarah bukan lagi makanan tapi barang-barang lainnya.

Dengan jumlah tersebut maka pengamanan distribusi logistik, serta pengamanan Kota Palu dan daerah terdampak seperti Kabupaten Donggala, Sigi dan wilayah sekitar lainnya.

Jumlah awal pasukan yang ditempatkan di Sulteng, kata dia, sebanyak 2.650 personil, dinilai belum mampu mengawal pemulihan pascagempa karena luasnya daerah yang terdampak gempa.

Sementara itu untuk pasukan yang diterjunkan dari Batalyon Kesehatan 1 Devisi Kostrad, Batalyon Kesehatan 2 dari Devisi 2 Kostrad, Personel Kesehatan Kodam XIII Merdeka, Pasmar 1, Pasmar 2, Paskhas, Marinir dan satuan Brigif 3 Kodam XIV Hasanuddin.

Sumber : Antara

Tag : Gempa Palu
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top