Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PEMBELIAN ETF: Gerak-gerik BOJ Membingungkan

Pembelian ETF (Exchange Traded Fund) atau reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek oleh Bank of Japan (BOJ) telah menarik perhartian strategis ekuitas global terkait peluang pengetatan kebijakan moneter Negeri Sakura.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 06 September 2018  |  20:04 WIB
Bank of Japan - REUTERS
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Pembelian ETF (Exchange Traded Fund) atau reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek oleh Bank of Japan (BOJ) telah menarik perhartian strategis ekuitas global terkait peluang pengetatan kebijakan moneter Negeri Sakura.

Jumlah pembelian ETF oleh bank sentral Jepang tersebut telah berkurang selama dua bulan terakhir, bahkan penurunan pada Agustus merupakan yang terendah selama lebih dari dua tahun.

Analis menilai, BOJ jelas sekali tengah mengatur cara operasional pasar dan tidak akan mengetatkan kebijakan moneter dengan sepengetahuan investor.

“Jelas sekali BOJ telah mengubah kebiasaan pembeliannya,” kata Shingo Ide, Kepala Strategis Ekuitas di NLI Research Institute di Tokyo, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (6/9/2018).

Akan tetapi, dia meniali bahwa yang dilakukan BOJ bukanlah langkah pengetatan atau normalisasi kebijakan, namun lebih kepada cara bank sentral untuk menghindari pembelian percuma agar program pembelian ETF menjadi berkelanjutan.

Biasanya, BOJ akan membeli ETF pada saat indek Topix melemah di sesi pagi. Namun, pada 15-16 Agustus 2018, BOJ tidak melakukan pembelian kendati benchmark indeks Topix turun sekitar 0,4% pada perdagangan pagi.

Adapun keadaan di mana indeks Topix melemah dan tidak diikuti oleh pembelian ETF dari BOJ tersebut menjadi yang pertama kalinya sejak Oktober 2016.

Nobuyuki Kashihara, Kepala Strategis Global di Asset Management One Co. di Tokyo menilai penyesuaian operasional pasar yang dilakukan BOJ akan membuat bank sentral kesulitan untuk terus membeli ETF seitap kali indeks Topix melemah.

“Hal ini tidak buruk dengan membiarkan pasar memiliki variabel otomatis dan memberikan ruang bagi investor untuk membeli saham ketika pasar terkena dampak eksternal. Ini bukan perubahan kebijakan, bukan pengurangan pelonggaran kuantitatif (QE),” ujarnya.

Adapun di dalam rapat kebijakan sebelumnya pada Juli, BOJ mengumumkan bahwa bank sentral akan mempertahankan laju pembelian ETF sebesar 6 triliun yen (US$53,9 milar), termasuk 300 miliar yen untuk mendukung investasi.

BOJ pun menyatakan bahwa “bank sentral akan menaikkan atau menurunkan jumlah pembelian [ETF] tergantung dengan kondisi pasar.”

Sementara itu, dengan mengecualikan pembelian yang berhubungan dengan dukungan cadangan devisa, BOJ telah membeli ETF senilai 140,6 triliun yen pada bulan lalu. Pembelian tersebut merupakan yang terendah sejak BOJ menaikkan laju pembelian ETF secara tahunan menjadi dua kali lipat pada Juli 2016 untuk membantu tercapainya target inflasi 2%.

Di sisi lain, Hisao Matsuura, strategis di Nomura Securities Co. di Tokyo menyinggung bahwa BOJ mungkin saja diam-diam mengurangi pembelian ETF dan tiba-tiba memangkas target pembeliannya menjadi sekitar 4,5 triliun yen.

“Peluang pengetatan sangat tinggi,” katanya sambil menambahkan bahwa stimulus BOJ tidak dapat bertahan selamanya.

Adapun berdasarkan Investment Trusts Association, BOJ, dan data yang dihimpun Bloomberg, BOJ telah memiliki setidaknya 75% kepemilikan ETF di pasar per akhir Juli, atau naik 62% dari dua tahun lalu.

Oleh karena itu, Kepala Strategis Investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities Co. Norihiro Fujito menyebut kemungkinan BOJ mengurangi pembelian ETF karena bank sentral telah mengeluarkan anggaran tahunannya sebanyak 65% pada Agustus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boj etf
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top