Trump Tuding China Retas Surel Hillary Clinton

Presiden AS Donald Trump menuding China meretas surat elektronik (surel) Hillary Clinton, mantan kandidat presiden dari Partai Demokrat pada Pilpres AS dua tahun lalu. 
Annisa Margrit | 29 Agustus 2018 14:42 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato saat buka puasa di Gedung Putih, 6 Juni 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden AS Donald Trump menuding China meretas surat elektronik (surel) Hillary Clinton, mantan kandidat presiden dari Partai Demokrat pada Pilpres AS dua tahun lalu. 
 
Hal itu disampaikan Trump melalui akun Twitter resminya, Selasa (28/8/2018) waktu setempat. 
 
"Surel Hillary Clinton, banyak di antaranya berisi informasi rahasia, diretas oleh China," ujarnya. 
 
Trump melanjutkan hal ini mestinya segera ditindaklanjuti oleh FBI dan Departemen Kehakiman AS. 

Beberapa jam sebelumnya, dia juga mencuitkan hal serupa. 
 
"Laporan terbaru: China meretas server surel pribadi Hillary Clinton. Apakah mereka yakin itu bukan perbuatan Rusia (hanya bercanda)?" tutur Trump.

Namun, presiden ke-45 AS ini tidak memberikan keterangan mengenai dari mana informasi itu diperolehnya.

Clinton, sebelum menjadi kandidat presiden, pernah menjabat sebagai Senator AS dari negara bagian New York dan Menteri Luar Negeri AS pada 2009-2013. Dia adalah istri dari mantan presiden AS Bill Clinton.

Surel Clinton menjadi isu panas pada momen Pilpres AS dua tahun lalu ketika diketahui dia menggunakan server surel swasta milik keluarganya untuk berkomunikasi secara resmi saat menjabat Menteri Luar Negeri. Padahal, mestinya dia menggunakan akun surel resmi dari Departemen Luar Negeri AS. 

Kerahasiaan dokumen serta informasi yang dipertukarkan melalui surel Clinton menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Negeri Paman Sam.

Reuters melansir Rabu (29/8), pernyataan ini bukan yang pertama kali disampaikan Trump. Pada April 2017, dia sudah memunculkan opini yang sama. 
 
Seperti diketahui, oknum Rusia disebut terlibat upaya mengganggu kelancaran Pilpres AS pada 2016. Peretasan surel sejumlah pejabat Partai Demokrat adalah salah satu metode yang dilakukan.
 
Pada Juli 2018, pengadilan federal AS juga sudah memutus bersalah 12 pejabat intelijen Rusia atas tuduhan peretasan jaringan komputer Clinton dan Partai Demokrat. 
 
Penyelidik Khusus Robert Mueller pun masih terus menginvestigasi peran Rusia dalam Pilpres 2016 dan apakah Trump berkolusi dengan Moskow. Baik Rusia maupun Trump menyangkal tudingan ini. 

Sumber : Reuters

Tag : china, Donald Trump
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top