Asian Games 2018, Jangan Lupa dengan Sejarah 1962

Terpilih sebagai penyelenggara Asian Games 2018 -- perhelatan olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade -- Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Sejarah, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka sebuah pameran bertemakan sejarah kesuksesan Indonesia ketika menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya pada 1962
Rahmad Fauzan | 18 Agustus 2018 13:30 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) membawa obor Asian Games XVIII saat prosesi kirab di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8). Sabtu 18 Agustus 2018 api obor akan dibawa estafet menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menandai dimulainya perhelatan Asian Games XVIII. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA  - Terpilih sebagai penyelenggara Asian Games 2018 -- perhelatan olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade -- Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Sejarah, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka sebuah pameran bertemakan sejarah kesuksesan Indonesia ketika menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya pada 1962.

Bukanlah hal yang mudah, seperti diakui oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, jika suatu negara ingin menjadi penyelenggara Asian Games yang sukses seperti yang pernah dicapai Indonesia pada Asian Games 1962.

Melalui pameran dan sejarah, Hilmar berusaha untuk menyampaikan pesan-pesan kesuksesan yang pernah diraih.

"Pameran ini menunjukkan bahwa tahun '62 kita sukses lho. Bukan hanya pemerintahnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang mendukung. Akan sulit menyelenggarakan sebuah gawe besar tanpa dukungan publik," tutur Hilmar Farid di Museum Nasional dan Plaza Insan Berprestasi kantor Kemendikbud di Jakarta dalam pembukaan pameran bertajuk "Olahraga dan Pembangunan Etos Kerja (Energi yang Tak Pernah Padam)", Sabtu (18/8/2018).

Pameran tersebut menghadirkan berbagai foto, pemutaran video dokumenter sejarah, dan benda-benda memorabilia kejayaan Asian Games koleksi Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional.

Bagi para atlit Asian Games 2018, pameran ini merupakan suatu sajian berbeda yang sangat layak untuk dikunjungi. Selain itu, Kemendikbud membebaskan biaya masuk bagi para atlit Asian Games 2018.

"Kita ingin mereka tahu lebih banyak tentang kita, bukan hanya tentang Asian Games, tetapi juga mengenai kekayaan budaya nasional kita," terang Hilmar.

Selain pameran, hari ini Direktorat Sejarah juga menyelenggarakan dialog sejarah bersama para pahlawan olahraga Asian Games ke-4 tahun 1962.

Hal ini, lanjut Hilmar, menjadi bagian dari Gerakan Nasional Cinta Tanah Air (GENTA).

Para pahlawan Asian Games ke-4 tahun 1962 yang hadir dalam dialog, di antaranya Lanny Gumulja (peraih medali emas cabang olahraga loncat indah); Buna Wijaya (atlet basket yang turut membawa pulang emas); dan Retno Kustijah (peraih medali emas cabang olahraga bulutangkis).

Direktur Sejarah, Triana Wulandari, mengungkapkan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai sejarah, semangat nasionalisme perlu ditumbuhkan kepada generasi muda.

Melalui pameran momen kejayaan Asian Games tahun 1962, Kemendikbud ingin memantik kesadaran publik untuk turut serta dalam pembangunan bangsa.

"Kegiatan ini adalah langkah kita meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan juga wawasan sejarah masyarakat dalam konteks karakter kebangsaan," ujar Triana Wulandari.

Pameran dibuka untuk umum sampai dengan 28 Agustus 2018 pada pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB.

Tag : Asian Games 2018
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top