OPINI: Menarik (Kembali) Minat Jepang ke Indonesia

Banyak pemda Jepang yang sudah memiliki program rutin untuk mengajak delegasi pengusaha ke luar negeri mencari mitra. Salah satunya adalah Indonesia. Pemerintah Jepang mulai membaca pentingnya para pelaku usaha di Negeri Sakura untuk berkolaborasi dengan luar negeri untuk mengatasi kekurangan sumber daya alam, sumber daya manusia dan juga pasar.
Suyoto Rais, Penggagas dan Ketua Umum Indonesia-Japan Business Network | 08 Agustus 2018 14:28 WIB
Pembukaan Acara Peringatan Hubungan Indonesia-Jepang. - 60jpid.com

Bisnis.com, JAKARTA – Tahun ini hubungan bilateral Indonesia— Jepang memasuki usia ke-60, usia yang bagi orang Jepang merupakan momen penting dan patut diperingati. Di Jepang disebut sebagai Kanreki atau tahun kembali setelah 10 batang langit (juu-kan) dan 12 cabang bumi (juuni-shi) yang digunakan untuk menandai kelahiran seseorang bertemu kembali.

Pemerintah kedua negara memperingati hubungan bilateral ke-60 ini dengan berbagai acara menarik dengan slogan Menuju Masa Depan Bersama: Kerja Bersama, Maju Bersama.

Sayangnya, memasuki usia Kanreki ini, perkembangan kerja sama bisnis kedua negara kurang menggembirakan. Minat investor Jepang ke Indonesia justru semakin menurun. Hal ini bisa dilihat dari hasil investigasi Bank of Japan for International Cooperation terhadap perusahaan manufaktur Jepang yang ingin investasi ke luar negeri.

Pada 2013 Indonesia pernah berada di puncak sebagai negara tujuan investasi yang paling diminati. Namun sejak 2014 prestasi itu terus menurun, menjadi nomor dua, nomor tiga, dan pada 2017 di nomor lima. Kalah dibandingkan dengan China, India, Thailand, dan Vietnam.

Sebenarnya pihak Jepang, baik melalui kedutaan, Japan External Trade Organization (Jetro) maupun instansi Jepang lainnya di Indonesia sudah sering membahas masalah ini, tetapi belum mendapat tanggapan.

Banyak alasan kenapa minat Jepang dari Indonesia bergeser ke negara tetangga dan Asia lainnya. Mulai dari masalah perpajakan, logistik, infrastruktur, kedekatan budaya, insentif pemerintah hingga tenaga kerja. Hal ini perlu dicermati dan diperbaiki bersama.

Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator serta masyarakat sebagai ujung tombak di lapangan harus saling mendukung di posisi masing-masing.

Upaya Pemerintah

Kedua pemerintah juga berupaya keras untuk meningkatkan investasi dan kolaborasi melalui forum bisnis, seminar investasi dan lainnya. Namun kurangnya komunikasi dan bimbingan berkelanjutan membuat hasilnya belum maksimal.

Pemerintah Indonesia juga telah merilis Making Indonesia 4.0, dimotori oleh Kemenperin untuk memberi arah pengembangan industri nasional agar searah dengan arus revolusi industri dunia. Namun Indonesia jelas kekurangan teknologi proses sehingga muncul apa yang disebut midle hollow yang besar antara industri hulu dan hilir.

Disini diperlukan banyak inovasi dan teknologi aplikatif untuk menciptakan nilai tambah di berbagai tahapan dan proses. Sementara jika hanya mengandalkan kerja sama penta-helix (pemerintah, akademik/ instansi penelitian, industri, asosiasi/ komunitas, media) di dalam negeri, jelas tidak akan terkejar. Karena itu kolaborasi dengan Jepang bisa jadi salah satu alternatifnya.

Di lain pihak, Jepang juga giat mendorong pengusahanya berekspansi ke luar negeri, baik berinvestasi sendiri atau bermitra dengan pengusaha setempat. Jetro dan Japan International Cooperation Agency (JICA) banyak terlibat dalam hal ini, termasuk pemerintah daerah di Jepang.

Banyak pemda Jepang yang sudah memiliki program rutin untuk mengajak delegasi pengusaha ke luar negeri mencari mitra. Salah satunya adalah Indonesia. Pemerintah Jepang mulai membaca pentingnya para pelaku usaha di Negeri Sakura untuk berkolaborasi dengan luar negeri untuk mengatasi kekurangan sumber daya alam, sumber daya manusia dan juga pasar.

Di sisi kepentingan Indonesia, yang perlu dibidik saat ini bukanlah perusahan menengah dan besar yang memiliki kemampuan ekspansi ke luar negeri sendiri, tetapi industri kecil dan menengah (IKM) atau bahkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Jepang. Mereka banyak yang memiliki produk dan teknologi yang diperlukan Indonesia, tetapi tidak memiliki cukup SDM dan modal untuk ekspansi ke luar negeri.

Untuk menemukan mitra di luar negeri, mereka banyak menggantungkan bantuan dari Pemerintah Jepang melalui Jetro, JICA, dan pemda masing-masing.

Menurut data yang dirilis Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) pada 2017, saat ini di Jepang ada sekitar 3,82 juta perusahaan. Dari jumlah itu, sebanyak 99,7% atau sekitar 3,8 juta termasuk kategori IKM, yakni usaha dengan jumlah karyawan maksimal 300 orang.

Dari jumlah ini, kalau dipilah menjadi UMKM dengan jumlah karyawan maksimal 20 orang, ternyata jumlahnya 85,1% atau sekitar 3,2 juta perusahaan. Sementara dari data di Teikoku Bank pada 2016, perusahaan Jepang yang telah berekspansi ke Asean sekitar 11.353 buah. Sebanyak 2.021 diantaranya di Indonesia. Perusahaan Jepang yang berekspansi ke Indonesia bisa dikategorikan menjadi 3 gelombang.

Pertama, pada 1970-an saat keran investasi baru dibuka. Kedua, era 1990-an ketika Indonesia diramalkan segera masuk anggota negara industri baru bersama Singapura, Korea Selatan dan Taiwan. Namun pada 1998 terjadi krisis global yang berdampak pada penurunan investasi Jepang. Iklim usaha mulai mengeliat lagi di era Presiden Yudhoyono dan berlanjut ke masa Presiden Jokowi. Sayangnya akhir-akhir ini minat investasi Jepang ke Indonesia mulai menurun, karena negara tetangga lebih siap dan ramah menyambut calon investor dan calon mitra usaha dari Jepang.

Soal keramahan, harusnya kita bisa lebih baik dari para tetangga Asean lainnya. Survei The Japan Foundation bisa menjadi gambaran. Saat ini di Indonesia ada sekitar 2.500 lembaga pengajaran bahasa Jepang atau nomor dua terbanyak di setelah Korea. Jumlah WNI yang belajar bahasa Jepang sekitar 750.000 orang, nomor dua setelah China.

Artinya, Indonesia seharusnya bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang Jepang dibandingkan dengan negara Asean lainnya. Saat ini juga ada puluhan ribu alumni Jepang yang tinggal di Indonesia atau WNI yang menjadi diaspora di Jepang yang berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Mereka sangat potensial untuk menarik minat orang Jepang ke Indonesia dan dapat dijadikan ujung tombak guna merintis kolaborasi bisnis.

Salah satunya adalah melalui IJB-Net (Indonesia Japan Business Network) yang akan diresmikan hari ini, 8 Agustus. Dimotori para alumni Jepang dan didukung para tokoh, pakar dan praktisi terkait di Indonesia dan Jepang, IJB-Net siap membantu perusahaan Indonesia dan Jepang yang ingin berkolaborasi.

IJB-Net awalnya akan mencari perusahaan Indonesia yang memerlukan mitra Jepang untuk mengembangkan produk baru atau meningkatkan nilai tambah produknya dengan sentuhan teknologi dari Jepang. Informasi ini akan dikirim ke pihak-pihak terkait di Jepang, melalui mitra organisasi dan instansi pemerintah di sana.

Tahap berikutnya diharapkan ada umpan balik dari Jepang yang siap mengadakan business matching ke Indonesia. Atau sebaliknya, IJB-Net akan mencari IKM Jepang yang memiliki teknologi dan produk baik yang diperlukan Indonesia untuk ditawarkan ke para pengusaha nasional.

Untuk memuluskan proses kolaborasi ini, IJB-Net akan mencari pendamping alumni Jepang yang paham budaya dan tata cara merintis kolaborasi kedua pihak. Saling percaya, saling menghargai dan saling menguntungkan adalah hal terpenting yang harus diupayakan sejak awal sampai selesai proses.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (8/8/2018)

 

Tag : jepang
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top