GEMPA LOMBOK: Warga Lombok Barat Mengungsi ke Perbukitan, Ada 73 Kali Susulan

Banyak warga Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat(NTB), dilaporkan mengungsi ke areal perbukitan pascagempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter(SR) yang mengguncang Pulau Lombok pada Minggu malam, pukul 19.46 Wita.n 
Newswire | 06 Agustus 2018 03:05 WIB
Suasana pascagempa di Lombok, Nusa Tenggara barat, Minggu (5/8/2018) - Antara

Bisnis.com, LOMBOK BARAT -  Banyak warga Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat(NTB), dilaporkan mengungsi ke areal perbukitan pascagempa bumi berkekuatan 7 Skala Richter(SR) yang mengguncang Pulau Lombok pada Minggu malam, pukul 19.46 Wita.

"Berdasarkan laporan anggota kami, sampai saat ini masih banyak warga yang bertahan dan mengungsi di areal perbukitan," kata Kapolres Lombok Barat, AKBP Heri Wahyudi yang ditemui wartawan di Senggigi, Senin (6/8/2018) dinihari.

Warga memilih untuk tetap bertahan di areal perbukitan karena informasi sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami pascagempa bumi 7,0 SR yang mengguncang NTB pada Minggu malam, pukul 19.46 Wita.

Namun terkait dengan informasi tersebut, BMKG Pusat telah menyatakan peringatan dini tsunami sudah berakhir pada Minggu malam, pukul 21.25 Wita.

Karena itu, BMKG Pusat secara resmi telah menyatakan peringatan dini tsunami yang disebabkan gempa bumi 7,0 SR di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, telah berakhir.

Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, masih banyak warga yang enggan kembali kerumahnya. Tidak hanya di lapangan terbuka dan areal perbukitan, banyak juga warga yang masih terlihat mengamankan dirinya di pinggiran ruas jalan.

Tidak hanya warga, dari hasil pantauan wartawan Antara di areal kawasan wisata Senggigi, banyak wisatawan asing maupun lokal yang menginap di hotel bertahan di halaman parkir.

Dampak dari gempa bumi ini juga terpantau sepanjang ruas jalan raya dari Kecamatan Meninting, Batu Layar, sampai ke arah Senggigi, gelap gulita. Begitu juga dengan tempat hiburan malam terlihat tutup.

73 Gempa Susulan

Bahkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat memantau telah terjadi 73 kali gempa bumi susulan hingga pukul 00.00 WIB pascagempa 7.0 Skala Richter(SR) yang mengguncang Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat(NTB) pada Minggu.

Informasi dari Humas BMKG yang diterima di Jakarta, Senin (6/8/2018) dini hari, menyebutkan gempa bumi susulan tersebut dengan kekuatan yang terus menurun.

Masyarakat di Pulau Lombok juga terpaksa mengamankan diri di tempat terbuka sebab tidak berani kembali ke rumah mereka karena gempa susulan masih dirasakan.

BMKG menyatakan gempa bumi tektonik 7.0 SR dengan kedalaman 15 km tersebut merupakan gempa utama dari rangkaian gempa yang terjadi sebelumnya karena mengingat episenternya relatif sama dengan gempa pada 29 Juli 2018.

Dengan memperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya, maka gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pascagempa tersebut, dan memantau terjadi kenaikan air laut di sejumlah tempat.

Namun peringatan dini tsunami tersebut secara resmi dicabut atau dinyatakan berakhir oleh BMKG pada pukul 20.25 WIB.

Akibat gempa bumi dangkal tersebut, terdata sementara 37 warga meninggal dunia dan sejumlah bangunan rusak. Gempa dan kerusakan juga terjadi di Bali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa lombok

Sumber : Antara
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top