Gerhana Bulan Total 28 Juli Paling Istimewa Abad Ini

Gerhana Bulan Total (GBT) kedua tahun ini akan terjadi lagi pada 28 Juli mendatang. Fenomena alam kali ini memiliki keistimewaan dibandingkan gerhana bulan sebelumnya pada Januari 2018.
Agne Yasa | 20 Juli 2018 15:39 WIB
Foto sekuen fase gerhana bulan total terlihat di Padang, Sumatra Barat, Rabu (31/1). Gerhana "super blue blood moon" itu terlihat awalnya di Padang mulai pukul 18.57 WIB dengan kondisi langit berawan. ANTARA FOTO - Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA – Gerhana Bulan Total (GBT) kedua tahun ini akan terjadi lagi pada 28 Juli mendatang. Fenomena alam kali ini memiliki keistimewaan dibandingkan gerhana bulan sebelumnya pada Januari 2018.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana bulan total pada 28 Juli 2018 merupakan fenomena yang akan berlangsung dalam durasi terlama pada abad ke-21.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, Hary Tirto Djatmiko mengatakan perhitungan secara astronomi, GBT pada 28 Juli 2018 posisinya terjadi pada tengah malam.

“Mulai terjadinya gerhana tepat di pukul 00.13 WIB berakhirnya [sekitar] di 06.45 WIB. Durasinya tergolong lama,” katanya kepada Bisnis.com, Jumat (20/7/2018).

Dia menjelaskan pada saat purnama durasinya bisa mencapai 103 menit yang merupakan terlama pada abad ke-21 karena setelah itu tidak akan ada yang memiliki durasi lebih lama.

Hary menambahkan gerhana bulan total dengan durasi yang lebih lama akan terjadi lagi pada Juni 2123 yang mencapai 106 menit. Namun, tidak bisa diamati di wilayah Indonesia, sedangkan yang dapat diamati di wilayah Indonesia terjadi pada Juni 2141 yang mencapai durasi 106 menit.

“Jadi itu kenapa yang dikatakan abad ini yang terlama Gerhana Bulan Total, nanti ada di abad ke-22 yang terlama lagi,” ujarnya.

Lamanya durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 tersebut disebabkan oleh tiga hal. Penyebab pertama adalah saat puncak gerhana terjadi, posisi pusat piringan Bulan dekat sekali dengan pusat Umbra Bumi.

Penyebab kedua adalah Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 terjadi pada saat Bulan di sekitar titik terjauhnya dari Bumi, yang dikenal sebagai titik apogee.

Penyebab ketiga adalah pada bulan Juli Bumi sedang berada di sekitar titik terjauhnya dari Matahari, (aphelion), yaitu yang terjadi pada 6 Juli 2018 pukul 23:47 WIB dengan jarak 152 juta km.

Pada saat puncak gerhana terjadi, jarak Bumi Matahari adalah lebih dekat 184.000 km dari saat di aphelion tersebut.

Secara umum, semakin jauh posisi Bumi dari Matahari, kerucut umbra yang terjadi menjadi semakin panjang dan lebih besar jika dibandingkan saat Bumi berada di sekitar titik terdekatnya dari Matahari. Karena itu, durasi totalitas Gerhana Bulan Total yang terjadi pun berpotensi menjadi lebih lama.

Adapun yang membedakan dari gerhana sebelumnya yaitu GBT pada 28 Juli 2018 berada di posisi jarak terjauh bumi dan matahari atau aphelion sehingga warnanya merah (blood moon) namun tampilan ukurannya tidak sebesar pada Gerhana Bulan pada Januari 2018.

“Ini bisa dinikmati untuk wilayah Indonesia, bisa diamati seluruh wilayah Indonesia dengan catatan kondisi cuaca memungkinkan, cerah,” katanya.

Proses Terjadinya Gerhana

Gerhana bulan merupakan peristiwa terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan. Pada GBT 28 Juli 2018, proses gerhana dimulai ketika piringan Bulan mulai memasuki penumbra Bumi, yaitu pada pukul 00:13,0 WIB.

Setelah itu, kecerlangan Bulan menjadi sedikit lebih redup dibandingkan dengan kecerlangannya sebelum gerhana terjadi.

Namun demikian, perubahan kecerlangan ini tidak akan dapat dideteksi oleh mata tanpa alat dan hanya dapat dideteksi dari hasil perbandingan perekaman antara sebelum gerhana terjadi dengan setelah fase gerhana mulai terjadi.

Ketika piringan Bulan mulai memasuki umbra Bumi, yang terjadi pada pukul 01:24,1 WIB, fase gerhana sebagian pun dimulai. Hal ini ditandai dengan sedikit lebih gelapnya bagian Bulan yang mulai memasuki umbra Bumi.

Semakin lama bagian yang gelap ini menjadi semakin besar, hingga akhirnya seluruh piringan Bulan memasuki umbra Bumi pada pukul 02:29,9 WIB. Sejak waktu tersebut, bagian Bulan menjadi memerah dan mencapai puncak kemerahannya pada saat puncak gerhana terjadi, yaitu pukul 03:21,7 WIB.

Memerahnya piringan Bulan ini terjadi karena adanya cahaya Matahari yang dihamburkan oleh atmosfer Bumi, untuk kemudian bagian cahaya kemerahannya yang diteruskan hingga sampai ke Bulan. Hal ini menyebabkan fase totalitas dalam Gerhana Bulan Total akan berwarna kemerahan.

Peristiwa memerahnya piringan Bulan saat fase totalitas ini akan berakhir pada pukul 04:13,5 WIB, yaitu ketika piringan Bulan mulai memasuki kembali penumbra Bumi.

Sejak saat itu, piringan Bulan pun akan terlihat gelap kembali plus adanya ada bagian terang pada piringan Bulan, yang menandakan persitiwa gerhana Bulan sebagian kembali terjadi.

Seiring waktu bagian yang terang itu akan semakin besar hingga akhirnya seluruh piringan Bulan meninggalkan umbra Bumi pada pukul 05:19,3 WIB. Pada saat tersebut Bulan berada di bagian penumbra Bumi sehingga peristiwa gerhana Bulan penumbra pun kembali terjadi.

Bulan pun semakin cerlang, meskipun kurang cerlang dibandingkan purnama biasa, hingga akhirnya gerhana pun selesai pada pukul 06:30,3 WIB ketika Bulan meninggalkan penumbra Bumi.

Tag : Gerhana Bulan Total
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top