Gerindra: Wacana Ganti Presiden Pengaruhi Pilkada Jabar dan Jateng

Wacana ganti presiden 2019 dinilai mempengaruhi kontestasi pilkada di Jawa Barat dan Jawa Tengah
Lingga Sukatma Wiangga | 30 Juni 2018 12:45 WIB
Pasien dan penunggu pasien mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) khusus di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/6/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana ganti presiden 2019 dinilai mempengaruhi kontestasi pilkada di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono hal itu terlihat dari meningkatnya perolehan suara yang diraih pasangan kepala daerah yang diusung partainya di kedua provinsi tersebut.

Di Jawa Barat, Partai Gerindra mengusung pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya menurut sejumlah lembaga survei pada masa kampanye di bawah 10%. Pun demikian popularitas pasangan calon yang diusung Partai Gerindra di Jawa Tengah.

Setelah pemilihan, pasangan yang diusung Partai Gerindra di Jawa Barat memperoleh sekitar 28% suara atau terpaut sekitar 4% dari peraih suara terbanyak yaitu pasangan Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum.

Adapun di Jawa Tengah, perolehan pasangan yang diusung Partai Gerindra yaitu Sudirman Said-Ida Fauziyah mencapai 40% lebih. Padahal pada masa kampanye, pasangan petahana Ganjar Pranowo-Taj Yasin selalu unggul elektabilitas hingga 70%.

“Itu tak terekam lembaga survei. Bisa saja survei dilakukan satu atau dua minggu jelang pencoblosan. Tapi pergerakan undecided voters mungkin satu atau dua hari jelang pemilihan. Kesimpulan kami undecided voters memilih pasangan yang kami dukung, di situ ada sentimen ganti presiden,” ujarnya dalam diskusi bertema ‘Pilkada, Kotak Kosong, dan Pilpres’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6/2018).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting Djayadi Hanan mengatakan apa yang terjadi dalam pilkada Jawa Barat bukan hal baru.

Pada pilkada 2013 di provinsi tersebut pasangan Rieke-Teten elektabilitasnya hanya sekitar 11% dan pada hari pemilihan hampir memperoleh 30% suara. Pada tahun yang sama, pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar pun elektabilitasnya berada di bawah Dede Yusuf-Lex Laksamana. Namun hasil pemilihan membuktikan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar mengungguli kedua pasangan lainnya.

“Aher [Ahmad Heryawan] masih kalah dari Dede Yusuf pada dua minggu sebelum pencoblosan. Akhirnya Aher nomor satu,” ujarnya.

Tag : Pilkada Serentak
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top