Sejarah Kelam Pulau Sentosa, Lokasi Pertemuan Trump dan Kim Jong-un

Pertemuan perdana antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un terjadi pekan ini di Singapura. Namun, siapa sangka pertemuan itu dilakukan pada satu pulau yang memiliki sejarah kelam.
N. Nuriman Jayabuana | 14 Juni 2018 11:57 WIB
Pulau Sentosa. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA-- Pertemuan perdana antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un terjadi pekan ini di Singapura. Namun, siapa sangka pertemuan itu dilakukan pada satu pulau yang memiliki sejarah kelam.

Pulau Sentosa memang sering disebut sebagai kawasan resor terbaik di Singapura karena mampu menarik sebanyak 20 juta pengunjung setiap tahun.

Seperti namanya, kata Sentosa sebenarnya merujuk kepada kedamaian dan ketenangan. Tempat itu memang begitu terisolasi, karena hanya dapat diakses melalui satu jembatan penghubung dengan pulau utama Singapura.

Hanya saja, beberapa dekade silam pulau itu lebih dikenal dengan nama Pulau Belakang Mati. Legenda setempat lebih banyak mengenal tempat itu dulunya sebagai sarang persembunyian perompak.

Cerita lain juga merujuk kawasan itu sebagai tempat mewabahnya satu penyakit mematikan yang hampir menyapu bersih penduduk di dalam pulau itu pada akhir 1840-an.

Namun yang pasti, sesuai namanya dulu kala, pulau itu berkaitan erat dengan kematian dan pertumpahan darah. Dalam Perang Dunia II, Singapura menyerah kepada pasukan Jepang pada 1942. Saat itu pula Pulau Sentosa diubah menjadi tempat penyiksaan tawanan perang Australia dan Inggris.

Pulau itu dijadikan sebagai tempat pembantaian orang Singapura etnis China yang dituduh sebagai aktifis anti-Jepang. Korban pembantaian ditembak mati di sepanjang pantai dan tubuhnya dilemparkan ke tepi laut.

Seperti dilansir Straits Times, setidaknya terdapat sekitar 300 mayat terhampar di lepas pantai Pulau Sentosa selama pendudukan Jepang.

Demikian juga dengan salah satu objek vital utama Pulau Sentosa, Fort Siloso. Benteng tersebut dipergunakan sebagai pos penjagaan selama masa perang dunia kedua.

Singkat cerita, segalanya berubah tatkala pemerintah Singapura memutuskan untuk mengembangkan pulau terisolasi itu sebagai destinasi wisata.

Singapura mengubah nama pulau tersebut dengan nama Pulau Sentosa pada 1970-an agar memberi kesan yang lebih baik terhadap wisatawan.

Jauh dari kekerasan masa lalunya, pulau itu mulai identik dengan rekreasi luar ruang, belanja dan kemewahan. Sebagai destinasi wisata, Pulau Sentosa turut menarik minat investasi sejumlah konglomerat Singapura dengan membangun kawasan vila di tepi laut dengan nilai puluhan juta dolar AS.

Di pulau itu tersedia sebanyak 17 hotel, dua lapangan golf, dan berbagai tempat menarik seperti Universal Studio maupun Museum Madame Tussauds.

Pertemuan bilateral AS-Korut terselenggara pada Hotel Capella, yaitu sebuah hotel bintang lima yang biasa disinggahi selebriti papan atas dunia. Biaya menginap di dalam setiap kamar mewar di hotel tersebut mencapai US$10.000 per satu malam.

Hotel mewah itu sengaja berlapiskan cat baru dan menggulirkan karpet merah untuk pertemuan bersejarah pemimpin petinggi AS dan Korea Utara.

Tag : singapura
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top