Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

CSIS : Isu Keamanan Tak Berpengaruh Besar terhadap Perolehan Suara Pilkada 2018

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyatakan isu keamanan yang sedang hangat di Indonesia beberapa minggu menjelang penyelenggaraan Pilkada 2018 tidak berpengaruh besar terhadap perolehan suara.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 13 Mei 2018  |  13:42 WIB
Contoh surat suara untuk Pilkada 2018 saat ditinjau oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tegal di percetakan PT Aksara Grafika Pratama (AGP) di Jakarta, Senin (30/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Contoh surat suara untuk Pilkada 2018 saat ditinjau oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tegal di percetakan PT Aksara Grafika Pratama (AGP) di Jakarta, Senin (30/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyatakan isu keamanan yang sedang hangat di Indonesia beberapa minggu menjelang penyelenggaraan Pilkada 2018 tidak berpengaruh besar terhadap perolehan suara.

Contohnya, berdasarkan hasil survey di wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, permasalahan utama yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah tingginya harga sembako, kemiskinan, dan terbatasnya lapangan pekerjaan.

Di Sumatera Utara, 27,1% responden menyatakan tingginya harga sembako merupakan permasalahan utama yang dirasakan. Sementara, di Sulawesi Selatan 25,2% juga menganggap harga sembako sebagai permasalahan utama.

Menariknya, dari delapan indikator permasalahan berdasarkan hasil survey CSIS, isu keamanan sama sekali tidak muncul sebagai permasalahan di masyarakat terkait dengan pemilihan kepala daerah.

Hal itu senada dengan pernyataan Arya Fernandes terkait dengan pengaruh isu keamanan terhadap suara pemilih di Pilkada 2018.

"Isu keamanan tidak punya pengaruh besar terhadap jumlah perolehan suara di Pilkada 2018," ujarnya.

Selain itu, terkait dengan masalah korupsi Calon Kepala Daerah, Arya mengatakan bahwa masyarakat pemilih di Indonesia merupakan tipikal pemilih yang mudah lupa.

"Terutama karena kasus korupsi Calon Kepala Daerah sudah sangat lama terjadi, dan juga karena aksi kampanye yang dilakukan secara masif oleh calon tersebut," paparnya.

Adapun, Calon Kepala Daerah yang pernah tersangkut kasus korupsi adalah Nurdin Halid, yang berpasangan dengan Abdullah Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai calon Gubernur-Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan.

Mendapat perlawanan dari Ichsan Yasin Limpo-Andy Musakkar, tingkat elektabilitas pasangan Nurdin Halid-Abdullah Aziz Qahhar Mudzakkar unggul sekitar 8%.

Tingkat elektabilitas Nurdin Halid pun tetap lebih tinggi dari Ichsan Yasin Limpo-Andi Musakkar ketika berpasangan dengan Andi Sudirman Said, yakni unggul tipis 0,5%.

Arya Fernandes menganggap selisih tersebut, baik itu ketika Nurdin Halid berpasangan dengan Abdullah Aziz Qahhar Mudzakkar maupun Andi Sudirman Said, masih dapat berubah mengingat masih terdapat 17,6% responden yang belum menentukan pilihan.

"Responden yang belum menentukan pilihan tersebut biasanya akan menentukan pilihan setelah debat terakhir berlangsung," lanjut Arya Fernandes.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilkada 2018
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top