Senjata Pusaka Jadi Andalan Kandidat Calon Gubernur

Pemimpin dan kandidat calon gubernur di Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Banten menggunakan "pusaka" atau senjata yang diyakini memiliki kekuatan, sebagai legitimasi kekuasaan terhadap rakyat dan pemerintahan.
Newswire | 03 Mei 2018 10:39 WIB
Ilustrasi: Sejumlah petugas dengan peralatan khusus sedang memanjat untuk membertsihkan Tugu Kujang setinggi sekitar 25 meter, di pusat Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/5/2015). - Antara/M.Tohamaksun

Bisnis.com, JAKARTA - Benda pusaka masih menjadi salah satu pelengkap para kandidat calon gubernur di Indonesia.

Pemimpin dan kandidat calon gubernur di Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Banten menggunakan "pusaka" atau senjata yang diyakini memiliki kekuatan, sebagai legitimasi kekuasaan terhadap rakyat dan pemerintahan.

Pernyataan itu disampaikan dua peneliti antropologi sosial dari Prancis Sarah-Anas Andrieu dan Gabriel Facal saat mempresentasikan hasil riset mereka mengenai dua senjata tradisional yaitu Kujang dan Golok Ciomas di Pusat Kebudayaan Prancis (IFI), Jakarta.

"Pusaka berbeda dengan senjata tradisional lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari material atau bahan yang dipilih dalam proses pembuatan dan fungsinya untuk sosial," kata Sarah, doktor antropologi sosial dari lembaga riset Centre Asie du Sud-Est (CASE Paris, EHESS/CNRS) di Jakarta, Rabu (2/5/2018) malam.

Kujang dan Golok Ciomas, menurut antropolog itu memiliki nilai, simbol, dan ide yang berfungsi bukan hanya sebagai identitas untuk masyarakat Jawa Barat dan Banten, tetapi juga sebagai simbol, status, dan sistem pemikiran.

"Sejak sistem pemerintahan di Indonesia beralih dari sentralisasi ke desentralisasi, penggunaan pusaka, misalnya Kujang di Jawa Barat meningkat seiring dengan kebutuhan untuk menguatkan identitas mereka agar berbeda dengan daerah lainnya," tambahnya.

Sarah melanjutkan kebangkitan Kujang semakin kuat di tengah kontestasi pemilihan kepala daerah, khususnya di Jawa Barat.

"Sekarang kita lihat jelang Pilkada 2018, sejumlah calon gubernur tampak menggunakan atau terlihat memakai pusaka dalam beberapa kegiatannya sebagai simbol legitimasi atas kuasa yang diperlihatkan ke masyarakat," jelas Sarah yang sebelumnya meneliti Wayang Golek sejak 2006.

Senada dengan itu, Facal yang meneliti Golok Ciomas turut menyimpulkan bahwa pusaka memegang peranan sentral sebagai wujud identitas masyarakat Banten.

"Sejak mereka [masyarakat Banten] memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat, tentu ada kebutuhan politis untuk menggunakan Golok Ciomas sebagai identitas atau pembeda," kata Gabriel, doktor dari Universitas Aix-Marseille, Prancis yang telah meneliti di Indonesia sejak 2004.

Dalam sesi presentasi, kedua peneliti itu didampingi Oman Salihin, seorang pandai besi pembuat Golok Ciomas.

"Pusaka kami, Golok Ciomas sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah. Saat ini hanya tersisa satu keluarga yang boleh membuat Golok Ciomas. Namun, kami terbuka untuk pihak lain yang ingin ikut belajar menempa Golok Ciomas agar tetap lestari," kata Oman.

Ia menambahkan, Golok Ciomas terbatas diproduksi 50-60 buah per tahun, karena biayanya cukup tinggi, material besi yang sulit, dan prosesi ritual yang panjang.

"Bijih besinya itu didapat dari berbagai sumber, dan kami memakai inti besi yang hanya diambil di satu daerah di Ciomas," tambah Oman.

Sesi presentasi mengenai Pusaka merupakan bagian dari perayaan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei dari Kedutaan Besar Prancis dan Institut Prancis di Indonesia (IFI).

Sebelum seminar antropologi bertajuk "pusaka! The Powerful Objects of West Java and Banten", IFI dan Kedubes Prancis turut menggelar sesi diskusi dengan tema "Melihat Pendidikan Lebih Besar dari Sekadar Sosok" menghadirkan pembicara Djohan Pinarwan (Price Water House Coopers), Dedi Wijaya (Lanjut Sekolah), dan Haiva Muzdaliva (Indonesia Mengajar).

Sumber : Antara

Tag : budaya
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top