Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda di Perbatasan

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menghentikan siaran propaganda di daerah perbatasan dengan Korea Utara untuk menciptakan suasana damai menjelang KTT inter-Korea yang akan berlangsung pertama kalinya setelah satu dekade pada Jumat (27/4/2018).
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 23 April 2018  |  09:44 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dengan delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Chung Eui-yong di Pyongyang, Korea Utara, 6 Maret 2018. - Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dengan delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Chung Eui-yong di Pyongyang, Korea Utara, 6 Maret 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertahanan Korea Selatan menghentikan siaran propaganda di daerah perbatasan dengan Korea Utara untuk menciptakan suasana damai menjelang KTT inter-Korea yang akan berlangsung pertama kalinya setelah satu dekade pada Jumat (27/4/2018).

Penghentian siaran propaganda dilakukan pada Senin (23/4).

Korea Utara (Korut) juga memiliki siaran propaganda sendiri yang disiarkan di perbatan dengan Korea Selatan (Korsel). Namun, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Korsel tidak bisa memverifikasi apakah negara tetangganya itu sudah menghentikan siaran propagandanya.

Pada Februari 2018, setelah upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korsel, pihak Korut sudah mengambil inisatif dengan mengecilkan suara siaran propagandanya.

"Kami berharap keputusan ini akan membuat kedua negara menghentikan kritik dan propaganda terhadap satu sama lain serta berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dan permulaan baru," demikian disampaikan Kemenhan Korsel dalam pernyataan resmi, seperti dilansir oleh Reuters.

Tidak dijelaskan apakah siaran propaganda akan diteruskan lagi usai pertemuan antara Presiden Korsel Moon Jae In dan pemimpin Korut Kim Jong Un, pekan ini.

Penghentian siaran ini merupakan yang pertama dilakukan Korsel dalam dua tahun terakhir. Pada pertengahan 2015, siaran tersebut sempat dihentikan sementara tapi kemudian dilanjutkan pada Januari 2016 setelah Korut menggelar uji coba nuklirnya.

Siaran propaganda Korsel berisi campuran berita, musik K-Pop, dan kritik terhadap rezim Korut.

Pada Sabtu (21/4), Korut mengumumkan penangguhan uji coba nuklir dan misilnya serta menutup lokasi uji coba nuklir. Korut menyatakan akan mengejar pertumbuhan ekonomi dan perdamaian. 

Adapun Presiden AS Donald Trump, yang diagendakan bertemu dengan Kim dalam beberapa pekan mendatang, menyambut baik pengumuman tersebut tapi memperingatkan bahwa masih diperlukan lebih banyak kemajuan.

"Kita masih jauh dari kesimpulan mengenai Korut. Mungkin semuanya akan berjalan lancar dan mungkin juga tidak, hanya waktu yang akan menjawab," ujar Trup di Twitter-nya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korsel vs korut
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top