Pria Suriah Ini Terdampar di Bandara Malaysia Selama Sebulan Lebih

Seorang pria Suriah bernama Hassan Al Kontar mengaku telah terdampar selama lebih dari sebulan di bagian transit Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Malaysia, sebagai konsekuensi dari perang saudara negaranya. Masalah ini diketahui setelah dia curhat dengan mengunggah video dirinya di bandara tersebut.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 13 April 2018 15:55 WIB
Hassan Al Kontar, warga Suriah yang terdampar di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Malaysia sejak Maret 2018. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Konflik bersenjata di Suriah tidak hanya mempengaruhi kehidupan penduduk yang tinggal di negara Timur Tengah itu, tapi juga berdampak terhadap warga Suriah yang ada di luar negeri.

Seorang pria Suriah bernama Hassan Al Kontar mengaku telah terdampar selama lebih dari sebulan di bagian transit Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Malaysia, sebagai konsekuensi dari perang saudara negaranya. Masalah ini diketahui setelah dia curhat dengan mengunggah video dirinya di bandara tersebut.

Al Kontar mengatakan dirinya dideportasi dari Uni Emirat Arab (UEA) ke Malaysia pada 2016, setelah kehilangan izin kerjanya ketika perang pecah di Suriah. Dia bercerita tidak dapat memasuki Malaysia dan usahanya untuk mencapai Kamboja dan Ekuador juga sia-sia.

Al Kontar awalnya meninggalkan Suriah pada 2006 untuk menghindari wajib militer (wamil) dan pernah kembali ke rumah sekali untuk menengok keluarganya, yakni pada 2008. Menurutnya, dia akan ditahan jika kembali ke Suriah sekarang.

Dilansir dari BBC, Jumat (13/4/2018), pihak KLIA 2 dan Departemen Imigrasi Malaysia sampai saat ini belum memberikan komentar apa-apa mengenai permasalahan tersebut.

Al Kontar mengatakan kepada BBC melalui telepon bahwa dia merasa khawatir dan tertekan, serta tidak lagi bisa membedakan hari.

"Saya benar-benar butuh bantuan. Saya tidak bisa tinggal di bandara ini lebih lama lagi, ketidakpastian ini membuat saya gila. Rasanya seperti hidup saya mencapai titik terendah," ungkapnya.

Al Kontar juga memberi tahu bahwa dia tidak bisa mandi dengan layak dan kehabisan baju bersih untuk berganti pakaian.

"Saya terbang ke UEA untuk mencari pekerjaan. Tetapi, karena konflik saya kehilangan izin kerja saya di sana dan telah melarikan diri sejak saat itu," tambahnya.

Al Kontar dideportasi oleh UEA ke pusat penampungan di Malaysia pada 2017 karena negara Asia Tenggara adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang menawarkan visa on arrival bagi warga Suriah. Dia diberi visa turis tiga bulan dan sedang mencoba mencari solusi yang lebih baik.

"Saya memutuskan bahwa saya ingin mencoba pergi ke Ekuador, jadi saya menabung cukup banyak uang untuk membeli tiket pesawat di Turkish Airways. Tetapi untuk beberapa alasan, mereka tidak mengizinkan saya untuk terbang dan saya kembali pada posisi yang sama," lanjut Al Kontar.

Dia juga harus membayar denda karena telah tinggal melewati waktu yang diizinkan (overstay) dan telah masuk daftar hitam di Malaysia. Sekarang, Al Kontar tidak dapat meninggalkan bandara ataupun kembali masuk ke wilayah Malaysia.

Sempat mencoba masuk ke Kamboja, dia terpaksa kembali setelah ditolak masuk dan paspornya ditahan oleh pihak imigrasi Kamboja.

Pejabat dari Kementerian Imigrasi Kamboja mengatakan kepada Phnom Penh Post bahwa warga Suriah dapat memperoleh visa pada saat kedatangan, tapi akan ditolak masuk jika gagal memenuhi persyaratan pemerintah.

"Kami perlu memeriksa apa tujuan mereka," kata Direktur Kementerian Imigrasi Kamboja Sok Veasna.

Al Kontar dikembalikan ke Kuala Lumpur pada 7 Maret 2018 dan terjebak di KLIA 2 sejak saat itu. Saat berita ini ditulis oleh BBC, dia mengungkapkan petugas layanan pelanggan bandara serta pejabat lokal PBB telah berkomunikasi.

"Pihak berwenang di sini mewawancarai saya dan saya telah mengisi beberapa laporan," ujar Al Kontar. 

Namun, masih belum diketahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia juga menegaskan perang yang terjadi sekarang bukanlah perangnya dan tidak mau berpartisipasi dalam konflik yang berlangsung sejak 2011 itu.

"Saya seorang manusia dan saya tidak menganggapnya benar untuk berpartisipasi dalam perang. Itu bukan keputusan saya," tutur Al Kontar.

Komisioner Tinggi untuk Pengungsi PBB menyampaikan bahwa mereka sudah mengetahui adanya kasus ini dan telah menghubungi pihak-pihak yang terkait.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suriah

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top