Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PB IDI: Masalah dr Terawan Tentang Etika Dokter, Bukan Soal Metode Cuci Otak

Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Daeng M. Faqih menegaskan bahwa metode 'cuci otak' yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto tidak ada sangkut pautnya dengan penilaian etika yang membuat Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) merekomendasikan dr Terawan untuk dipecat sementara (selama 12 bulan).
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 07 April 2018  |  08:59 WIB
PB IDI: Masalah dr Terawan Tentang Etika Dokter, Bukan Soal Metode Cuci Otak
Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Daeng M. Faqih - Nur Faizah al Bahriyatul Baqiroh
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Daeng M. Faqih menegaskan bahwa metode 'cuci otak' yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto tidak ada sangkut pautnya dengan penilaian etika yang membuat Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) merekomendasikan dr Terawan untuk dipecat sementara (selama 12 bulan).

"Bukan [karena] metode terapi cuci otak tersebut, ini murni masalah etika kedokteran saja,"ungkap Daeng M. Faqih kepada Bisnis di Gedung PB IBI, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/4/2018).

Daeng menjelaskan secara garis besar etika di kedokteran ada empat prinsip, yaitu;

Yang pertama adalah prinsip beneficient, Jadi yang dilakukan oleh Dokter itu tujuannya hanya untuk kebaikan Pasien.

Yang kedua, non-malfunction, jangan sampai menimbulkan kemudharatan kepada pasien.

Yang ketiga, keadilan, jadi apa yang harus dikerjakan dokter itu harus seadil-adilnya tidak memandang status apapun, tidak membedakan siapapun pasiennya.

Yang terakhir, otonomi pasien, yang dokter kerjakan harus dengan persetujuan pasien.

"Kalau soal contoh-contoh pelanggaran etikanya itu banyak, misalnya saja, dokter itu tidak boleh menjanjikan kesembuhan, kedua tidak boleh beriklan, karena iklan itu kan terkadang menyesatkan," jelasnya.

Iklan dalam pandangan kedokteran adalah dokternya sendiri tidak boleh beriklan dengan mengucapkan kata-kata yang seolah-olah memuji dirinya sendirinya.

"Contohnya saja, semisal saya bilang 'saya ini seorang dokter, bisa menyembuhkan bla bla' memuji diri juga tidak boleh, misalnya 'saya ini sebagai dokter ini, sudah menemukan ini' itu tidak boleh secara etika," ungkap Daeng memberi contoh.

Mengenai terapi cuci otak yang dilakukan oleh dr Terawan, Daeng mengatakan bahwa PB IDI justru mendukung metode tersebut untuk dilegitimasi di Kementerian Kesehatan. Bukan malah iri, dengan metode temuan dokter berpangkat Mayor Jenderal tersebut.

"Itu kan metode inovatif, kita dukung dia [dr Terawan] untuk melakukan legitimasi di Kementerian Kesehatan melalui uji klinis melalui HTA (Health Technology Assessment), Jadi IDI malah senang kalau dr Terawan metode inovasinya itu dimasukkan ke HTA, malah kita mendorong, karena untuk menjadi standar kompetensi itu harus melalui HTA," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedokteran
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top