Korut Dapatkan Dukungan Sahabat Lama

Menjelang pertemuan tingkat tinggi (KTT) antara Korea Utara dan Korea Selatan pada April serta Korea Utara dan Amerika Serikat pada bulan selanjutnya, Kim mengunjungi sekutu lamanya, China sejak Minggu (25/3/2018) hingga hari ini di Beijing.
Dwi Nicken Tari | 28 Maret 2018 14:37 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA -- Menjelang pertemuan tingkat tinggi (KTT) antara Korea Utara dan Korea Selatan pada April serta Korea Utara dan Amerika Serikat pada bulan selanjutnya, Kim mengunjungi sekutu lamanya, China sejak Minggu (25/3/2018) hingga hari ini di Beijing.

Lewat pertemuan itu, China akan berada di belakang Korea Utara jika pertemuan dengan Presiden Korsel Moon Jae-in dan Presiden AS Donald Trump tidak mencapai kesepakatan.

Pertemuan Kim dengan Presiden China Xi Jinping juga memberikan pengaruh kepada Negeri Panda seiring naiknya tensi perang dagang dengan AS. Apalagi, China juga telah dibuat panas oleh AS ketika awal bulan ini Trump memperbarui hukum status diplomatiknya dengan Taiwan.

Sementara keputusan KTT Korus-AS tampak akan menyisihkan China, Xi pun berjanji untuk mendukung Kim. Dia menggambarkan hubungan dua negara itu, “sangat penting bagi kedua belah pihak”, harus dipertahankan.

“[Langkah] ini merupakan pilihan strategis dan satu-satunya pilihan yang tepat bagi kedua belah pihak [Korut dan China]. Ini menjadi dasar sejarah dan kenyataan, antara struktur internasional dan regional serta situasi umum antara hubungan Republik Rakyat China dan Republik Demokratis Rakyat Korea,” ujar Xi mengutip nama resmi Korea Utara, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (28/3/2018).

Dalam praktiknya, China menyarankan agar pertemuan antara Kim bersama Trump dan Moon dapat mengembalikan diskusi enam-sisi atas program nuklir Korut. Sebelumnya, diskusi yang mengikutsertakan China, Jepang, dan Rusia tersebut telah gagal pada 2009.

Adapun dalam jangka pendek, Kim mengupayakan agar negaranya dibebaskan dari sanksi internasional yang membatasi ekspor segala sesuatu dari Korut, mulai dari batu bara hingga makanan laut, dan impor minyak. Sementara untuk jangka panjang, Kim ingin mengusahakan pakta perdamaian yang akan mengakhiri Perang Korea secara resmi.

Untuk mencapai tujuan-tujuannya itu, sangat esensial bagi Kim untuk mendapatkan sokongan dari mitra perdagangan dan ekonominya, China, sebelum terjun ke KTT.

Shi Yongmin, mantan diplomat China yang kini bekerja sebagai periset di China Institute of International Studies mengatakan bahwa kondisi ini membuat Korut sangat membutuhkan China.

Dia menambahkan, tidak mungkin Kim mengadakan pertemuan dengan Trump tanpa berkonsultasi dengan China.

“Yang terjadi berikutnya tergantung dari AS karena administrasi Trump dipenuhi pejabat hawkish,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (28/3/2018).

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan bahwa pejabat China akan memberikan briefing kepada Paman Sam terkait kunjungan Kim tersebut.

“Kami memandang perkembangan ini sebagai bukti bahwa kampanye kami untuk menekan [Korut] membuahkan hasil dengan adanya pembicaraan dengan Korea Utara,” kata Sanders di dalam pernyataan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, korea utara, ktt

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top