Para Pemimpin Islandia Boikot Piala Dunia di Rusia

Para pemimpin negara Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia tahun ini sebagai bagian dari tanggapan internasional untuk menghukum Kremlin atas serangan racun saraf terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris, sebagaimana dituduhkankan pemerintah Inggris kepada Moskow.
Newswire | 27 Maret 2018 11:43 WIB
Tim Islandia dan suporternya - Reuters

Bisnis.com, LONDON - Para pemimpin negara Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia tahun ini sebagai bagian dari tanggapan internasional untuk menghukum Kremlin atas serangan racun saraf terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris, sebagaimana dituduhkankan pemerintah Inggris kepada Moskow.

Meskipun negara kepulauan kecil dengan lebih dari 300.000 penduduk ini berhasil mencapai final turnamen sepak bola terbesar di dunia, tidak akan ada kehadiran perwakilan diplomatik Islandia di Piala Dunia, kata Kementerian Luar Negeri, Senin (26/3/2018).

"Di antara tindakan yang diambil Islandia adalah penundaan sementara dari semua dialog bilateral tingkat tinggi dengan pihak berwenang Rusia. Akibatnya, para pemimpin Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia FIFA di Rusia musim panas ini," kata pernyataan kementerian.

Pada Senin (25/3/2018), Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan lebih dari 130 orang mungkin telah terpapar dengan racun syaraf yang diyakini telah digunakan untuk meracuni mantan mata-mata Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury, Inggris, pada 4 Maret.

May, menyambut baik solidaritas, mengatakan 18 negara telah mengumumkan rencananya untuk mengusir para pejabat Rusia. Mereka termasuk 14 negara Uni Eropa. Secara total, 100 diplomat Rusia telah dihapus, pengusiran negara-negara Barat terbesar kepada para diplomat Rusia sejak puncak Perang Dingin.

Rusia telah berulang kali membantah bertanggung jawab atas serangan racun saraf tersebut.

"Sejauh ini, tanggapan Rusia sangat kurang," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Islandia. "Rusia harus memberikan penjelasan yang dapat dipercaya tentang bagaimana racun saraf yang awalnya diproduksi di laboratorium Soviet digunakan untuk menyerang warga sipil di Inggris."

Sumber : ANTARA/REUTERS

Tag : piala dunia 2018
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top