PERANG DAGANG AS vs CHINA: Saham Pembuat Mesin Jepang Anjlok

Saham pembuat mesin asal Jepang dengan pasar ekspor mayoritas di China dikarbarkan anjlok, Jumat (23/3), akibat perang dagang antar Amerika Serikat dan China yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.
Nirmala Aninda | 24 Maret 2018 17:25 WIB
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Kabar24.Com,  TOKYO -- Saham pembuat mesin asal Jepang dengan pasar ekspor mayoritas di China dikarbarkan anjlok, Jumat (23/3), akibat perang dagang antar Amerika Serikat dan China.

Dilansir melalui Reuters, saham milik para perusahaan produsen mesin, yang berkontribusi terhadap 20% total eskpor Jepang, sempat naik pada beberapa tahun belakangan dengan adanya permintaan investasi di segmen elektronik dan semikonduktor di China, mitra dagang terbesar Jepang.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menandatangani memorandum presiden pada Kamis (22/3) yang menargetkan tarif baru hingga US$60 miliar terhadap barang-barang asal China.

Tarif tersebut berdampak pada sebagian besar sektor industri termasuk teknologi.

"Pembuat barang mentah dan mesin Jepang selama ini menikmati tingginya ekspor dengan meningkatnya permintaan untuk produk teknologi di China, sehingga kemungkinan besar mereka akan terpukul keras [dengan kebijakan ini]," kata Shogo Maekawa, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management.

Indeks sektor mesin Tokyo .IMCHN.T merosot 5,6% yang berdampak pada penurunan rata-rata saham Nikkei. N225 sebesar 4,5%.

Produsen mesin merasakan dampak terparah, saham Makino Milling Machine (6135.T) merosot 6,1%, Okuma Corp (6103.T) turun 7,4% dan DMG Mori Co (6141.T) tersandung di posisi 6%

Sejak awal tahun ini saham Makino telah menurun hingga 15%, sementara Okuma dan DMG Mori merosot jauh sekitar 20%.

Kantor Kabinet Jepang pekan lalu mengatakan pihaknya memperkirakan penurunan 3,1% terhadap ekspor Jepang untuk yang pertama kalinya pada 2018.

"Untuk ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada permintaan eksternal di tengah permintaan domestik yang lemah, [kebijakan] ini menandakan berakhirnya ekspor yang kuat," kata Toru Suehiro, ekonom pasar senior di Mizuho Securities.

Nilai saham terendah tercatat dimiliki oleh perusahaan pembuat alat semikonduktor Advantest (6857.T) dan Tokyo Electron 8035.T yang masing-masing turun 4,1% dan 5,7%.

Saham perusahaan pembuat silikon dengan kemurnian tinggi, Sumco Corp (3436.T) juga merosot 5% bersamaan dengan saham perusahaan pembuat produk silikon Shin-Etsu Chemical Co 4063. yang turun hingga 6,7%.

Sementara itu saham milik perusahaan pembuat peralatan konstruksi, Komatsu (6301.T) turun hingga 6,3%.

Tag : perdagangan, perang dagang AS vs China
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top