Skandal Penyalahgunaan Data Facebook Meluas, Brazil Investigasi Cambridge Analytica

Terkuaknya skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook dan kaitannya dengan Pemilu presiden AS pada 2016, mendorong beberapa negara untuk melakukan penyelidikan yang sama.
Annisa Margrit | 22 Maret 2018 06:56 WIB
Ilustrasi Facebook. - Bloomberg/Chris Ratcliffe

Bisnis.com, JAKARTA -- Terkuaknya skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook dan kaitannya dengan Pemilu presiden AS pada 2016, mendorong beberapa negara untuk melakukan penyelidikan yang sama.

Reuters melansir Kamis (22/3/2018), jaksa Brazil mengungkapkan telah mulai melakukan investigasi mengenai keterlibatan Cambridge Analytica di negara itu. Jaksa dari Distrik Federal, yang termasuk Brasilia, menyatakan akan melakukan penyelidikan apakah lembaga konsultan itu menggunakan data jutaan rakyat Brazil untuk menciptakan profil psikografik.

Di Brazil, Cambridge Analytica menjalin kemitraan dengan A Ponte Estratégia Planejamento e Pesquisa LTDA, perusahaan konsultan yang berbasis di Sao Paulo.

Negara Amerika Latin ini merupakan pasar terbesar ketiga Facebook.

BBC juga melaporkan adanya permintaan dari Norman Magaya, petinggi Partai National Super Alliance (Nasa), agar dilakukan penyelidikan terhadap keterlibatan Cambridge Analytica di negara Afrika tersebut. Menurutnya, perusahaan itu berupaya merusak keinginan rakyat Kenya.

Sebelum membantu kampanye Donald Trump dalam Pemilu presiden AS pada 2016, perusahaan itu aktif di Kenya dan disebut ikut terlibat dalam Pemilu pada 2013.

Pemilu presiden Kenya pada 2017 diwarnai kontroversi. Calon presiden yang diusung Nasa yaitu Raila Odinga memperoleh suara 45% sedangkan Kenyatta Uhuru dari partai lawan meraih 54%.

Namun, hasil pemungutan suara dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) Kenya karena dinilai ada penyimpangan di lapangan. Odinga menolak untuk ikut serta dalam Pemilu ulang karena khawatir perubahan sistem yang dilakukan tidak berjalan baik.

Regulator Inggris dan AS sebelumnya sudah memanggil petinggi Facebook untuk menjelaskan penyalahgunaan data 50 juta penggunanya oleh Cambridge Analytica. 

Sementara itu, dalam pernyataan resmi Cambridge Analytica yang disampaikan pada Selasa (20/3), perusahaan yang berbasis di London, Inggris itu menyatakan telah melakukan suspensi atas CEO Alexander Nix dan menggelar penyelidikan atas berbagai kasus yang disampaikan.

Pernyataan Nix dalam video yang direkam secara rahasia oleh Channel 4 dan tuduhan lainnya disebut tidak mewakili nilai-nilai atau operasional perusahaan. Selama investigasi berjalan, Alexander Tayler telah ditunjuk sebagai CEO sementara.

Sumber : Reuters, BBC

Tag : facebook
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top