Koalisi PKS-Gerindra Tutup Peluang Jokowi

Almuzammil meyakini dengan majunya pasangan capres dari koalisi itu maka akan sulit terbentuk poros ketiga. Pasalnya, agak sulit untuk membuat koalisi PKB, PAN dan Partai Demokrat sebagai parpol yang tersisa untuk membentuk poros ketiga.
John Andhi Oktaveri | 22 Maret 2018 15:24 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, seusai acara pelantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno, di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). - ANTARA /Setpres Agus Suparto

Kabar24.com, JAKARTA — Politisi Almuzzammil Yusuf memastikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan berkoalisi dengan Partai Gerindra sehingga menutup peluang Presiden Joko Widodo sebagai satu-satunya calon presiden pada Pilpres 2019.

Menurut Almuzzammil, dengan berkoaliasi bersama Partai Gerindra, kedua parpol sudah mengantongi 113 kursi di parlemen atau di atas 20% syarat raihan suara nasional. Karena alasan itulah, ujar Almuzzammil, kedua parpol siap untuk berhadapan dengan sedikitnya lima partai politik yang sudah menyatakan mendukung Presiden Jokowi untuk Pilpres 2019. 

“Kami dengan Pak Prabowo sudah menyatakan berserikat, sebagaimana pada sejumlah pilkada terlepas dari sikap partai lainnya,” ujarnya dalam satu diskusi bertajuk “Peluang Dua Pasang Calon Presiden Selain Poros Jokowi” di Gedung DPR, Kamis (22/3/2018).

Akan tetapi, Almuzzammil tidak mau berspekulasi apakah capres yang dimaksud untuk kedua parpol itu adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Almuzammil meyakini dengan majunya pasangan capres dari koalisi itu maka akan sulit terbentuk poros ketiga. Pasalnya, agak sulit untuk membuat koalisi PKB, PAN dan Partai Demokrat sebagai parpol yang tersisa untuk membentuk poros ketiga.

Sementara itu, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan poros Jokowi bisa terancam kalau ada tidak poros calon presiden. Pasalnya, dua penatang yang kalah pada tahap pertama pemilihan presiden akan akan sulit untuk bergabung dengan sang pemenang kalau senadainya Jokowi yang menanag.

Pangi menganalogikan tiga poros itu sebagaimana terjadi di Pilkada DKI Jakarta. Pada Pilkada tersebut, petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menang babak pertama tidak mampu bertahan di babak kedua karena kecenderungan dua pasangan yang kalah akan bergabung menghadapi petahana.

“Jadi poros Jokowi akan terancam kalau ada tiga poros,” ujar Direktur Voxpol Center itu dalam diskusi tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jokowi, prabowo subianto

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top