Perbankan Syariah Berpotensi Tumbuh di Aceh

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh menilai bisnis perbankan syariah berpotensi tumbuh di Aceh. Melihat dari potensi wilayah, Aceh memiliki banyak komponen penunjang kemajuan bisnis perbankan syariah, seperti dari segi kekayaan alam dan memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Arun.
Abdul Hadi Firsawan | 21 Maret 2018 10:16 WIB
Pelayanan di salah satu bank syariah. - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, BANDA ACEH -- Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh menilai bisnis perbankan syariah berpotensi tumbuh di Aceh. Melihat dari potensi wilayah, Aceh memiliki banyak komponen penunjang kemajuan bisnis perbankan syariah, seperti dari segi kekayaan alam dan memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Arun.

Selain itu, Aceh merupakan penerima alokasi APBN terbesar di Sumatra untuk pembangunan infrastruktur dan juga menerima APBD terbesar keenam di Indonesia. Di samping itu, Aceh juga punya potensi pariwisata yang tergolong lengkap, dari gunung, laut, hingga wisata religi.

"Dengan potensi yang dimiliki itu, ekonomi syariah di Aceh dapat tumbuh dengan prospek yang bagus," kata Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh Teuku Munandar di Banda Aceh, Selasa (20/3/2018).

Di Provinsi Aceh, lanjut dia, aset perbankan syariah lebih tinggi daripada perbankan konvensional. Dari Rp48 triliun aset perbankan di provinsi tersebut, Rp28,6 triliun di antaranya dimiliki oleh perbankan syariah.

Di samping itu, Aceh juga mempunyai bank daerah dengan sistem syariah pertama di Indonesia.

Untuk membuat perbankan syariah tumbuh, terang Munandar, ekonomi syariah di suatu daerah harus digalakkan. BI melihat ekonomi syariah merupakan payung dari semua instrumen keuangan syariah.

Bank sentral menyatakan ekonomi syariah sudah menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi dunia meski yang menjalankan bisnis ekonomi syariah didominasi oleh negara non muslim.

 

China misalnya, sudah menjadi produsen busana muslim dengan bahan berkualitas dan nilai produksinya mencapai US$28 miliar. Selain itu, Korea Selatan mempunyai visi menjadi daerah tujuan utama wisata halal dunia.

"Ini negara-negara non muslim telah membuat misi untuk berkontribusi dari sisi ekonomi syariah. Bahkan, Brazil ingin jadi pemasok pertanian halal di dunia," sebutnya.

Indonesia diakui masuk dalam sepuluh besar negara dengan pengeluaran terbesar di industri halal, terutama di makanan, fesyen, dan kosmetik.

Namun, dari segi produksi, Indonesia belum masuk dalam daftar sepulih besar dunia, kecuali dalam bidang farmasi. Indonesia juga masuk dalam lima besar negara importir produk halal.

"Eksportir produk halal, peringkat pertama itu Brazil yang mencapai US$15 miliar. Kita terus berusaha supaya ke depan produk syariah menjadi andalan dari Indonesia," ujar Munandar.

Dalam mengembangkan perusahaan syariah di Indonesia, BI menargetkan setidaknya aset keuangan syariah bertumbuh 15%-20% setahun. Saat ini, porsinya hanya 16% dari total aset keuangan Indonesia yang senilai Rp24.900 triliun.

Sementara itu, aset perbankan syariah berkutat di 5%-6%. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh menunjukkan aset perbankan syariah di wilayah itu menyentuh Rp28,6 triliun. Pembiayaan yang sudah disalurkan sekitar Rp14,2 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp20,75 triliun.

OJK Aceh juga sedang mendorong lembaga keuangan syariah agar bisa mengambil bagian dalam pendanaan proyek infrastruktur. Diprediksi, dibutuhkan pendanaan sebesar Rp4.796 triliun untuk proyek infrastruktur pada 2020.

"OJK juga mendorong perbankan syariah melakukan inovasi produk dan layanan agar perbankan syariah bisa lebih diminati masyarakat," kata Kepala Subbagian Industri Keuangan Non Bank (IKNB) dan Pasar Modal OJK Provinsi Aceh Amrin Hasdi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi syariah

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top