Badan POM Terima 38 Laporan Efek Samping Albothyl

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerima 38 laporan dari para pengguna Albothyl yang mengalami efek samping pemakaian obat ini dalam 2 tahun terakhir.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 Februari 2018  |  10:49 WIB
Badan POM Terima 38 Laporan Efek Samping Albothyl
Logo Badan POM. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerima 38 laporan dari para pengguna Albothyl yang mengalami efek samping pemakaian obat ini  dalam 2 tahun terakhir. Para pasien mengeluh bahwa setelah pemakaian obat luar itu, sariawan mereka justru membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi.

"Terkait dengan pemantauan Albothyl, dalam 2 tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan," tulis BPOM dalam keterangan resminya yang diterbitkan pada Kamis (15/2/2018).

Albothyl merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat. Obat itu digunakan untuk hemostatik dan antiseptik saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, sariawan, gigi, vaginal (ginekologi), serta telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

BPOM secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan, dan mutu.

BPOM bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat. Berdasarkan hasil koordinasi, BPOM memutuskan bahwa zat yang mengandung policresulen konsentrat itu tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan. "Serta (tidak boleh digunakan) pada kulit (dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT); sariawan (stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi)," tulis BPOM.

BPOM juga membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. Selain itu, produk sejenis pun akan diberlakukan hal yang sama.

BPOM mengimbau masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk menggunakan alternatif lain guna menyembuhkan sariawan. Obat lain yang dianjurkan dapat mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1$, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.

BPOM meminta agar para profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM melalui websitewww.e-meso.pom.go.id.

BPOM mengajak masyarakat untuk selalu membaca informasi yang terdapat pada kemasan obat sebelum digunakan, dan menyimpan obat tersebut dengan benar sesuai yang tertera pada kemasan. Ingat selalu untuk mengecek kemasan, informasi pada label, izin edar, dan kedaluwarsa. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi isu-isu terkait dengan obat dan makanan yang beredar melalui media sosial.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpom

Sumber : Tempo.co

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top