Ditopang Sergab, Gabah di Jabar Diserap 7.000 Ton per Hari

Jawa Barat memasang target serapan gabah kering panen (GKP) sebanyak 7.000 ton per hari dengan harga beli Rp4.200 per kilogram.
Juli Etha Ramaida Manalu | 15 Februari 2018 02:24 WIB
Ilustrasi: Petani menjemur gabah di tempat pengeringan. - Antara/Mohammad Ayudha

Kabar24.com, JAKARTA – Jawa Barat memasang target serapan gabah kering panen (GKP) sebanyak 7.000 ton per hari dengan harga beli Rp4.200 per kilogram. Realisasi target ini akan ditopang mekanisme Serap Gabah (Sergab) yang melibatkan TNI dan Bank BRI.

Puncak panen padi di Jabar berlangsung pada Februari hingga April 2018 dengan produksi gabah pada Februari mencapai 1,27 juta ton dari luas panen 230.835 hektare.

“Target ini pasti bisa dicapai karena rata-rata panen di Jabar tiap harinya 200.000 hektare. Apalagi dengan mekanisme Sergab yang baru ini, di mana mitra Bulog kini pihak TNI dan BRI, bukan lagi swasta. TNI turun beli langsung gabah ke petani dengan harga yang fleksibel,” kata Kepala Dinas Pertanian Jabar Hendi Jatnika melalui siaran pers pada Rabu (14/2/2018).

Wakil Aster Kasad Brigjen TNI Dudung Abdurachman meminta para Dandim untuk melaksanakan Sergap seoptimal mungkin dengan memperhatikan betul kualitas gabah sehingga Bulog memperoleh beras yang bagus khususnya atau tahan lama disimpan.

“Bulog tidak bisa menerima beras begitu saja karena resikonya kualitas. Jadi, kadar air harus diperhatikan. Ini sering terjadi pada mitra-mitra yang tidak perhatikan kadar air,” tegas Dudung.

Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring menekankan masalah beras sangat strategis karena apabila pangan kekurangan, manusia bisa melakukan apa saja. Oleh karena itu, Dandim di masing-masing kabupaten diharapkan bisa mencpaai target Sergab.

“Kami mengimbau para tengkulak agar tidak bermain. Kami minta kepada para Dandim, kelola uang Sergab dengan sebenarnya. Kita sudah diberikan semuanya, Sergab harus optimal sehingga beras luar tidak ada ruang masuk. Ini harus kita sadari bersama,” tutur Yosua.

Dirjen Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto menekankan agar Sergab di Jabar bisa sesuai dengan target. Untuk mencapai hal sejumlah cara kan dikerahkan. Salah satunya adalah dengan meminta dinas pertanian setempat agar menginformasikan posisi combine harvester, dryer atau penggilingan kepada Dandim.

Alat mesin pengering atau penggilingan, combine harvester bantuan Kementan diorganisir menjadi brigade panen.

Selanjutnya, Dandim harus memastikan data terkait peta daerah panen khususnya harga wilayah dengan harga GKP di bawah Rp 4.200 per kg. “Para Dandim pun harus mendata ketersediaan gudang-gudang di semua kabupaten,” kata Gatot.

Selain itu, Kasubdrive Bulog setempat diminta mengeluarkan SPK kepada Dandim sebagai mitra Bulog untuk mengambil pinjaman ke BRI berdasarkan kebutuhan Sergab (peta potensi panen).

“Kemudian, gabah dikeringkan, digiling dan dijual ke Bulog dan Bulog membayar sesuai dengan kuantum dan jenis besarnya,” jelas Gatot.

Terkait dengan hal ini, Kepala Divisi Regional Bulog Jawa Barat, Mamat mengungkapkan pihak Bulog memang diberi tugas melakukan serapan secara optimal. Bulog di berbagai daerah sudah perintahkan mulai saat ini melakukan sergap dengan optimal.

“Tidak ada lagi keraguan bagi kita untuk tidak menyerap gabah petani karena aturan main sudah jelas, salah satunya yang disepakati dalam Rapat Koordinasi Nasional di Jakarta,” sebut Mamat.

Tag : gabah
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top