Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pemimpin Lokal Lawan Tokoh Nasional di Pilgub Sumut 2018, Siapa Menang?

Jauh hari sebelum Djarot masuk dalam pertarungan Pilgub Sumatera Utara 2018, nama Letjen Edy Ramayadi sudah lebih dulu populer di wilayah tersebut.
Bakal calon gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kanan) bersama bakal calon wakil gubernur Musa Rajeckshah (kiri) naik becak saat akan mendaftar ke KPU Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Senin (8/1). Edy Rahmayadi - Musa Rajeckshah (ERAMAS) yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Golkar, NasDem dan Hanura, mendaftar ke KPU untuk maju dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumut periode 2018 - 2023. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/ama
Bakal calon gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kanan) bersama bakal calon wakil gubernur Musa Rajeckshah (kiri) naik becak saat akan mendaftar ke KPU Sumut, di Medan, Sumatera Utara, Senin (8/1). Edy Rahmayadi - Musa Rajeckshah (ERAMAS) yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Golkar, NasDem dan Hanura, mendaftar ke KPU untuk maju dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumut periode 2018 - 2023. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/ama

Panglima Ikut Bertarung

Jauh hari sebelum Djarot masuk dalam pertarungan Pilgub Sumatera Utara 2018, nama Letjen Edy Ramayadi sudah lebih dulu populer di wilayah tersebut.

Tidak sulit bagi Edy untuk memperkenalkan namanya pada masyarakat Sumut. Dia pernah jadi Pangdam Bukit Barisan, Pangkostrad sekaligus Ketua Umum PSSI yang tidak hanya dikenal oleh masyakarat Sumut, tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Sedangkan sang pendamping Musa Rizhekhan (ijek) berlatar keluarga sukses. Ijek merupakan keturunan Arab kelahiran 1968.

Keunggulan lainnya dari pasangan ini tentunya di basis politik enam parpol pendukung, yakni Gerindra 13 kursi, PKS 9 kursi, PAN 6 kursi serta tambahan dari Nasdem 5 kursi dan Golkar 17 kursi sehingga menguasai 50 kursi di DPRD.

Hanya saja banyaknya partai pendukung tidak menjamin kemenangan bagi Edy. Pasalnya, tidak mudah menyatukan langkah pemenangan mengingat suara dari kalangan pemilih Islam terpecah. Penyebabnya karena PPP berada di sisi yang berseberangan dengan PKS, PAN dan PKB.

Kondisi itulah yang membedakannya dengan pasangan Djarot-Sihar yang memiliki basis nomuslim yang jumlahnya lebih dari 33%. Secara tradisional kekuatan ini menjadi basis pemilih PDIP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Nancy Junita

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper