Waspadai Cuaca Buruk Jelang Natal dan Tahun Baru

BMKG merilis sebanyak 93,27 % wilayah Indonesia memasuki musim hujan dan sisanya 6,73 % masih mengalami musim kemarau yang sifat lokal, seperti di beberapa wilayah Jatim, Bali, NTT, dan NTB, Sulawesi Maluku.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 23 Desember 2017  |  16:05 WIB
Waspadai Cuaca Buruk Jelang Natal dan Tahun Baru
Prakiraan angin pada 24 Desember/www - bmkg.go.id

Kabar24.com, JAKARTA – BMKG merilis sebanyak 93,27 % wilayah Indonesia memasuki musim hujan dan sisanya 6,73 % masih mengalami musim kemarau yang sifat lokal, seperti di beberapa wilayah Jatim, Bali, NTT, dan NTB, Sulawesi Maluku.

Sementara, Sumatera dan Kalimantan sedang memasuki puncaknya musim hujan jelang Natal dan Tahun Baru.

Baca juga: Mudik

Dikutip dari laman www.bmkg.go.id, Sabtu (32/12/2017), Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menegaskan agar masyarakat mewaspadai hujan dengan curah sedang sampai lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, potensi hujan lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 cukup besar, hal ini dikarenakan supply massa udara lembap dari Samudera Pasifik dan daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia, sehingga sangat intensif penyebab tingginya potensi hujan lebat di wilayah Indonesia.

Masyarakat perlu mewaspadai hujan sedang-lebat pada menjelang Natal 19-23 Desember 2017 yang terjadi di wilayah Aceh Bagian Barat, Pesisir Selatan Sumatera, Banten, Pesisir Utara jawa, Sulawesi Selatan, NTB, sebagian NTT. Sementara, dalam periode natal 24-26 Desember 2017, hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT. Sulawesi Tengah, dan Papua Bagian Tengah

Menjelang Tahun Baru 2018, 26-31 Desember 2017 potensi hujan sedang-lebat terjadi di Pesisir Utara Jawa, Jateng, Jatim, Kaltara, Sulteng, Maluku. Pada Awal tahun 1-7 Januari 2018 Konsentrasi hujan sedang-lebat di Aceh, Pesisir Barat Sumatera, Jateng, Yogyakarta, Kaltim, Kaltara, Sulteng, NTT.

Selain itu, masyarakat pun harus mewaspadai potensi angin kencang yang dapat mencapai lebih dari 20 knot (lebih dari 36 km/jam) yang berpotensi di beberapa wilayah indonesua meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah hingga NTB.

Angin kencang ini berpengaruh pada gelombang tinggi, untuk itu masyarakat perlu mewaspadai gelombang tinggi, seperti di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara dengan tinggi gelombang mencapai 6 -7 m.

Guna mengantisipasi cuaca buruk, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginstruksikan para Kepala Bandara agar proaktif mengantisipasi ramalan cuaca dari BMKG.

“Kita sudah melakukan koordinasi dengan BMKG. Kabandara-kabandara saya instruksikan agar proaktif mengantisipasi ramalan cuaca di tempat-tempat tertentu, sehingga kita bisa prediksikan dan bisa menginformasikan kepada masyarakat,” kata Budi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cuaca

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top