Ini 3 Sektor Unggulan Baru di Jateng Menurut Bank Indonesia

Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah mencatat terdapat tiga sektor unggulan baru sebagai alternatif memperkuat pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 14 Desember 2017  |  21:59 WIB
Ini 3 Sektor Unggulan Baru di Jateng Menurut Bank Indonesia
Petani memanen kopi di area lereng Gunung Muria, Dawe, Kudus, Jawa Tengah, Senin (31/7/2017). Pengolahan kopi termasuk sektor unggulan baru ekonomi Jateng. - Antara/Yusuf Nugroho

Kabar24.com, SEMARANG - Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah mencatat terdapat tiga sektor unggulan baru sebagai alternatif memperkuat pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut.

Analis Senior Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan BI Perwakilan Jateng Sani Eka Duta menjelaskan BI Jateng telah melakukan kajian mendalam agar dimunculkannya sektor unggulan baru bagi ekonomi daerah itu.

Tiga sektor ini yakni pariwisata, obat tradisonal, hingga pengolahan kopi. Dia mengatakan Jateng merupakan penghasil obat herbal terbesar di Indonesia dengan komposisi bahan baku lokal yang sangat tinggi. Untuk itu, diperlukan strategi agar keunggulan ini semakin besar.

“Orang akan semakin percaya dengan yang alami,” kata Sani Eka di Semarang pada Kamis (14/12/2017).

Sani Eka menambahkan bank Indonesia memperkirakan PDRB Jateng akan tumbuh 5,2% - 5,6% pada 2018. Dengan estimasi data yang positif itu,l dunia usaha harus optimistis menatap tahun depan. Dia mengutarakan momentum pertumbuhan harus ditangkap oleh dunia usaha.

“Kuncinya adalah melakukan sinergi antara investasi dan regulator sehingga lebih sustain dan memiliki potensi lebih maju,” ujarnya.

Sani mencatat berdasarkan empat sektor pertumbuhan, saat ini investasi langsung, dan konsumsi baik oleh pemerintah maupun rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan yang kuat.

Ekspor yang melonjak tajam dari Jawa Tengah dilihat lebih lanjut ternyata belum berkontribusi besar. Pasalnya ekspor ini masih tertekan oleh Impor barang modal yang menjadikan Jawa Tengah sebagai net importir.

Dia menyatakan kencendrungan konsumsi terutama dari rumah tangga tertahan hanya bersifat temporer. Pasalnya dana pihak ketiga di perbankan tercatat tumbuh hingga 12,68%. Demikian juga dengan kredit yang dikucurkan, masih tumbuh 9,58%.

“Ini terkait dengan keberanian pengusaha karena global dan tahun politik, tapi kondisinya masih sangat positif, semoga ini moment wait and see,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa tengah, komoditas unggulan

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top